Selangkah demi
selangkah, mulai ku rajut lagi mimpiku di atas lembaran kain putih polos
memanjang tak terhingga itu. Pola-pola yang sebelumnya terputus dan kabur, kini
menjadi lebih jelas dan mulai terlihat menyambung satu sama lain menuju ke arah
yang sama. Detingan jarum jam yang selalu berputar itu tak henti juga melakukan
hal yang sama, tak ubahnya dengan ‘mati’. Namun setiap dentingan jarum jam itu,
mengubah setiap jengkah dalam hidupku. Walaupun ‘dia mati’, tetapi memberiku
sensasi yang berbeda, kadang naik, kadang turun, datar, bahkan bergejolak. Ya,
dentingannya itu adalah waktu, tak bisa
lepas dari kehidupan setiap makhluk, atau bisa dibilang kita berlari, berjalan,
di dalam waktu.
Waktu yang
telah ku lalui selama ini, berbekas indah dalam rajutan putihku. Kadang memang
banyak yang terbuang tanpa manfaat sama sekali, tetapi tak bisa dikatakan kalau
semua itu ‘percuma’. Tidak, tidak sama sekali. Waktu sekalipun ia terbuang,
diajarinya aku arti penting dari waktu, darinya aku belajar, belajar merajut
mimpi dan hidup. Diskusi dan sharing sore ini dengan seorang kakak angkatan, di
sebuah warung sederhana tongkrongan mahasiswa, cukup menyegarkan pikiran dan
memantapkan hati untuk tetap bermimpi dan menjaga ‘hidup dalam realita’. Ditemani hidangan yang hangat siap santap
serta rintik-rintik hujan, menambah suasana petang semakin sedap.
“Oh iya,”
sambil memberikan bungkusan tas karton kecil padaku, “selamat ulang tahun ya..
Maaf ya, aku emang sengaja nggak beli kado,” ucapnya sambil tersenyum padaku.
“Apa ni
isinya?” tanyaku penasaran sambil mencoba mengintip ke dalam. Dibungkus kertas
kado motif batik yang apik dengan pita mengelilingi bagian atasnya, sedikit
berat memang dan tak berbunyi ketika ku coba mengocoknya.
“Ah buka aja
sendiri,” timpal mbak Nia sambil menyruput teh panas di hadapannya, “eh dibaca
dulu ya ucapannya.”
“Wah apa nih?”
berbentuk gelas memang, tapi bukan gelas lagi karena telah beralih fungsi.
Gelas putih ukuran sedang dengan tutup rapat berwarna cokelat tua, ditempel
ucapan ‘selamat ulang tahun’ dan doa didepannya dengan kertas berwarna oranye.
Di dalam gelas terdapat banyak origami berbentuk bangau yang berukuran kecil
dan berwarna-warni. Aku hanya tersenyum membaca kata-kata terakhir, “meski tak selengkap pelangi, tapi
setidaknya ini mengingatkan bahwa hidup ini warnanya beragam”. Dan aku
hanya tersenyum sambil berucap, “makasih ya mbak, love it...” ku taruh kembali
ke dalam tas karton dan menyandarkannya ke dinding bata di sampingku. Walaupun
terlambat, tapi terasa hangat dan lembut menyentuh rasaku, terima kasih.
Perbincangan
petang itu berkutat tentang mimpi dan realitas hidup, adakalanya kita terkukung
dalam realita dan membuat segalanya seperti tak ada asa. Mimpi hanyalah mimpi,
kita hidup di realita, bukan dunia fiksi, kurang lebih begitulah orang-orang
mencitrakan ‘mimpi’. Mbak nia adalah sosok yang membuatku selalu bisa merasa
bahwa aku mampu, aku layak, dan aku adalah aku. Walaupun terpaut 4 tahun, aku
bisa menemukan apa yang ku cari selama ini di dalam dirinya. 2 jam sudah kami
bersendawa ria di warung yang menyajikan hidangan serba pedas itu, dan inti
dari sharing kali ini adalah, “it’s okay kalau kamu punya mimpi, punya
target... Asalkan ketika kamu nggak bisa meraih itu dan diberikan pengganti
yang lain oleh Allah, jangan nge-down lama-lama.”
Aku tersenyum
membalasnya, “kayak nggak tau aku itu gimana mbak, selama ini aku selalu begitu,
tak perlu lama-lama menyesal, galau, dan lain sebagainya. Aku orangnya mudah
menerima kok,” dan diakhirilah pembicaraan kami dengan rasa puas, puas karena
kenyang, puas berbagi kisah. Sejak aku mengenal mimpi, lembaran kanvasku selalu
ceria. Bunga-bunga yang terlukis selalu merekah tersenyum. Tak ada air mata
menetes dari ujung-ujung tangkainya. Hanya ketika awan bergulung-gulung menutupi
sinar mentari, sesaat bunga-bunga itu melayu. Sang angin datang mengusir
awan-awan dan menyapa lembut bunga-bunga bersama mentari, begitulah hari-hari
yang ku lukis di tumpukan-tumpukan kanvas itu.
Rasanya ucapan
terima kasih pun tak cukup ku uraikan pada banyak hal yang telah memberiku
kekuatan mimpi, memberitahuku arti mimpi, mengajariku bagaimana bermimpi, 〃何度でも「ありがとう、ありがとう」って言うたい。でもそれは足りないと思っている。〃 Terima kasih, ya, kata-kata yang luar biasa,
sesaat menyentak dan menyentuh hati. Setinggi apa pun, setebal apa pun pintu
hatinya, ‘terima kasih’-lah yang akan mengetuknya dengan nyaring dan lembut.
Mimpi mengajariku
apa itu arti kesungguhan. Pantang menyerah tidak semudah kau menuliskannya di
atas kertas dengan pensil yang bisa kau hapus semaumu. Tepat 7 tahun yang lalu,
di bulan yang sama, ku mulai langkah pertamaku masuk ke geladak kapal mimpi.
Rute dan gol sudah ditetapkan, kapten dan kru kapal lainnya pun sudah bersiap,
hanya saja badai masih bergemuruh dalam diri sang kapten. Gemetar, gelisah,
gugup, menanti keluarnya lisensi untuk pelayarannya yang pertama kali. Kisah
ini bermula ketika aku duduk di bangku SMA kelas X. Aku yang sedari dulu selalu
menyimpan ketertarikan dan keingintahuan akan sebuah negeri di seberang utara
sana, akhirnya menemukan persinggahan.
Jepang, itulah
yang memperkenalkanku dengan mimpi dan membentuk diriku yang sekarang ini. Ada
yang bilang ‘pertemuan-pertemuan dengan orang-orang tertentu itulah yang akan
menghubungkan kita dengan segala sesuatu di luar cangkang kita’, itulah yang ku
alami. Pertemuan-pertemuan itu serasa sudah diatur dan dicatat dalam buku
kehidupanku oleh Sang Maha Kuasa, apa yang selama ini paling tidak ku inginkan
justru diberikan-Nya padaku. Ada sebuah SMA yang paling tidak ingin ku masuki,
bahkan sampai hari terakhir pendaftaran pun aku masih mengelak. Namun Allah
berkata lain, Dia berikan aku rejeki yang paling ingin ku tolak. Masuklah aku
di sebuah SMA di Jogja yang terkenal dengan ‘muhammadiyahnya negeri’ itu.
Pertemuanku
dengan berbagai orang, perlahan membuka celah-celah cahaya yang menyinari anak
tangga menuju istana mimpi. Pertemuanku dengan Yuu-chan, Nana, Laila, Lita,
Erna Sensei, Eva Sensei, Lina Sensei, Iin Sensei, dan para sahabat lain telah
merubah setiap jengkal waktuku. Suatu hari aku bercerita pada Erna Sensei,
“Sensei, aku sebenarnya udah tertarik sama Jepang dari lama. Pengen rasanya
sekali aja bisa ke sana,” ungkapku sambil cengengesan di depan kelas selesai
ekstrakurikuler.
Sensei
membalas senyum dan berkata, “Ah coba aja cari beasiswa pendidikan ke sana.
Cari beasiswa buat kuliah 2 tahun lagi tuh. Namanya Monbukagakusho, dari
Kedubes Jepang, Lin. Nanti sensei kasih tau alamat webnya, kalau mau infonya
ada di JASSO.”
“Wah kayaknya
seru tuh, makasih ya sensei buat infonya,” dengan wajah sumringah aku berlagak
seperti anak TK yang mendapatkan permen.
“Kapan-kapan
main aja ke rumah sensei, deket kok, tuh gang depan sekolah masuk, ntar sensei
cerita banyak deh tentang Jepang. Kalau butuh bantuan apa-apa, calling sensei
aja,” jawabnya lembut sambil melihat jam tangannya. “Ah sensei pergi dulu ya,
habis ini masih mau ngajar di JACO.”
“Siap sensei!
Ki wo tsukete kudasai「気をつけて下さい!」 !” ucapku dengan semangat sambil melambaikan
tangan. Perbincangan sore itu dengan Erna Sensei ku ceritakan pada Nana dan
Yuu-chan yang tak berapa lama keluar dari kelas dan menghampiriku. Mereka
sangat antusias dan langsung berniat untuk mencobanya. Menempuh pendidikan
tinggi di Jepang telah menjadi mimpi kami sejak sore itu. Bulan pun berganti
dan kami semakin dekat dengan sosok Erna Sensei yang sangat ramah dan grapyak
kepada murid-muridnya. Bahkan mungkin sudah sering kami bersilaturahmi ke
rumahnya.
Kedekatan
dengan Erna Sensei membawa beberapa perubahan dalam kami melihat apa yang
disebut masa depan dan cita-cita. Mungkin pertemuan dengan beliaulah yang
membuat sejarah hidupku berbelok dan berintrik, kadang penuh dengan kemelut
emosi, ketenangan batin yang luar biasa, sampai pada kebahagiaan masa sekolah
yang tak terukur nilianya. Entah dari mana asalnya, aku menjadi lebih jujur
pada diriku sendiri, pada keinginanku sendiri dan aku serasa lepas dari
bayang-bayang ayahku yang selalu menyindirku karena aku gagal masuk jurusan
IPA. Setiap air mata yang ku teteskan karena terlukai perasaan beliau kadang
berujung pada kebencian dan kemarahan, namun sejak ku bulatkan tekadku untuk
mengejar mimpi, aku mengubah semuanya itu menjadi kekuatan. Bukan dibalas
dengan kata-kata, tapi cukup ku buktikan saja kalau apa yang selama ini ayah
katakan itu tidak benar.
Setiap kali
aku mengingat perkataan beliau, “Arep dadi opo kowe mlebu IPS? Akeh wong IPS
kae podho nganggur, lulusan hukum kae delok, ming podho nganggur. Mending kowe
ndisik nek mlebu IPA, iso dadi dokter, iso buka praktek, duite akeh (Mau jadi
apa kamu masuk IPS? Banyak orang IPS nganggur, lihat itu lulusan hukum, cuma
pada nganggur. Lebih baik kamu dulu masuk IPA, bisa jadi dokter, bisa buka
praktek, banyak uangnya).” Ya, aku hanya bisa masuk ke kamar dan menangis,
merasa diriku sangat bodoh dan tak berguna. Tapi itu hanya sesaat, tak sampai sejam,
aku sudah bisa mengubahnya menjadi sumber kekuatan terbesarku.
Tahun
terakhirku di SMA ku habiskan untuk belajar dan belajar, bahkan hari sabtu dan
minggu sekalipun. Sesaat aku sangat menikmatinya dan entah sejak kapan menjadi
sesuatu kegiatan yang sangat ku sukai. Bibit yang ku tanam dan rawat selama 1
tahun terakhir sebentar lagi akan mekar. Bibit-bibit
bunga itu mulai menguncupkan tunas. Malam semakin larut dan hanya remang cahaya
emas sinar bulan yang menemaninya. Seperti bulan yang bermandikan cinta, dalam
senyum hangatnya tunas-tunas itu tumbuh dan mulai berkuncup. Denting fajar yang
mulai berbunyi, membangunkannya. Kuncup-kuncup itu mekar memancarkan senyum
menyejukkan. Dandelion, semerbak di taman mimpi. Pupuk doa yang ku taburkan
pada dandelion selalu membuatnya semakin kuat dan sehat, tanpa lelah selau disirami
air doa dari ayah ibu.
Ku
pasrahkan segalanya pada Sang Pencipta, aku hanya berharap yang terbaik
dariNya. Ya, dan Dia memberiku jawaban yang luar biasa, UNAS alhamdulillah, UGM
luar biasa. Dan ayah pun hanya bisa tersenyum menyaksikan itu semua tanpa
sepatah kata pun keluar darinya. Walaupun ada beberapa bunga yang layu dan
akhirnya gugur tak berbekas, tapi aku merasa bisa melihat hari esok yang lebih
baik. Bunga dandelion dengan label Monbukagakusho itulah yang layu, tapi tanpa
sedikitpun rasa sesal terlukis dari tangkai-tangkainya yang meradang.
Bunga-bunga dandelion Yuu-chan dan Nana dengan label yang sama pun juga melayu.
Dan kami pun memulai perjalanan kami dengan rute masing-masing. Kapal kami pun
berpisah di jalur realita dan tanpa sedikit pun senyum dalam tangis itu tertoreh.
“Mungkin
habis ini kita akan terpisah, beda sekolah bukan berarti kita nggak pernah
ketemu lagi ya,” ucapku sambil mencairkan suasana yang acak adul antara senang,
sedih, dan bangga. Malam itu di acara tutup tahun sekolah Yuu-chan, Nana, dan
Laila hanya tersenyum menanggapinya, seperti biasa ekspresi mereka, tak berubah
sedikitpun. Kami hanya saling pandang, tak bersuara sedikit pun, hanya
menikmati acara tutup tahun yang malam itu kami dari Club Jepang ANATA dan
Ekstrakurikuler Bahasa Jepang menampilkan Cosplay
Cabaret dengan membawakan kisah Inuyasha yang cukup populer saat itu.
Aku yang mulai meletakkan album kenangan
itu, kini melirik dunia perguruan tinggi yang mengajariku lebih akan banyak
hal, membawaku pada gerbang kedewasaan. Ketika ku buka gerbang itu perlahan,
dunia mimpi dan realita seakan semakin jauh terpisah. Selama 2 tahun pertama ku
putuskan untuk ku habiskan waktuku di dunia nyata, di mana kita ini hidup
sebagai seorang insan yang sesungguhnya. Pertemuan-pertemuan dengan orang-orang
yang membelokkan titik-titik mati dalam ruteku benar-benar membuat diriku
merasa seperti bidak-bidak catur. Aku merasa sangat kecil sekali di hadapan
Allah, Dia dengan segala kehendak dan kuasaNya yang luar biasa telah mencatat
hidupku dengan sangat indah.
Berawal dari persahabatanku yang semakin
kuat dengan seorang Yuli yang sudah ku kenal sejak masih SMP, dia menghubungkan
rantai-rantai ikatanku dengan Fita, Ikhsan, Andhi, Aryo, dan Wisnu. Ku lalui
hari-hariku di kampus dengan mereka, walaupun kami berbeda jurusan satu sama
lain, namun magnet kuat Jama’ah Muslim Fisipol dan Aliansi 08 menyatukan kami. Perkenalanku
dengan Wisnu yang tak disengaja itu, mengingatkanku kembali akan mimpiku yang
hampir berkarat. Dia menyirami kembali bunga-bunga dandelionku yang daunnya
sudah mulai berguguran itu. Tahun 2011 dia mengajakku untuk mengikuti sebuah
ajang internasional, Asian Job Express
(AJE) dengan hadiah utama berupa tawaran pekerjaan di perusahaan-perusahaan
bergengsi di Jepang, prize winner berupa uang U$ 3600, dan 4
hari business trip di Tokyo, Jepang.
Sebenarnya saat itu aku sedang disibukkan
membantu penelitian seorang mahasiswa S2 dari Universitas Nagoya Jepang yang
kebetulan tema penelitiannya sama dengan tema skripsiku. Ditambah lagi
penelitian dilakukan di Klaten yang menguras banyak waktu dan tenagaku ketika
di jalan mau pun di lapangan. Deadline
pengumpulan paper dan dokumen lainnya hanya tinggal seminggu lagi dan aku masih
belum sempat untuk menyentuhnya sama sekali. Malam itu ku putuskan untuk
mengirim SMS pada Wisnu.
“Nu, kamu udah selesai? Udah kamu kirim? Aku
belum sempet ngerjain sama sekali ew, duh piye iki?” ketikku di handphone flip Sony Ericsson unguku itu.
Tak berapa lama, SMSku berbalas.
“Udah dari lama aku kirimnya. Emang kamu
sibuk apa? Tinggal seminggu lagi lho.”
Lalu ku balas begini, “Aku belum cerita ya,
aku bantuin penelitian mahasiswa dari Nagoya neh, di Klaten pula. Pulang malem
terus aku, terus nenekku juga lagi opname ini. Bisa kirimin punyamu ke emailku
gak? Pengen tau bentuknya, formatnya kayak apa.”
“Oke, bentar ya.” Tak berapa lama
handphoneku berbunyi lagi, lalu ku buka SMS itu, “Udah ku kirim,” begitu balas
Wisnu.
Dan aku hanya membalasnya, “Sankyuu ya..”
yang berarti terima kasih. Ku buka email yang dikirim oleh Wisnu, namun tetap
saja aku tak tahu bagaimana harus mengerjakan task yang diberikan. Wisnu yang mengambil perusahaan Bandai Namco task-nya sangat berbeda denganku yang
mengambil Idemitsu Kosan, perusahaan yang bergerak di bidang industri
petroleum. Task dari Idemitsu membutuhkan banyak sekali data-data untuk bisa
menyelesaikannya dan sama sekali aku belum mendapatkan data-data yang
dibutuhkan seperti GDP Indonesia, konsumsi dan produksi minyak Indonesia, dan
lain sebagainya. Akhirnya ku biarkan
begitu saja dan kembali mengerjakan laporan penelitian dan tugas-tugas lainnya
yang diberikan oleh Teppei.
H-3 deadline
AJE, ketika aku sedang asyik menyelesaikan tugas dari Teppei, menjelang maghrib
sore itu, adikku tiba-tiba masuk ke kamar dengan raut muka cemas.
“Mbak, Kempuk sms kalau nenek udah nggak
ada. Cepet telpon ibu, beneran apa nggak.” Aku hanya tercengang dan terdiam
sesaat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kecilnya itu. Segera ku ambil
handphone dan ku dial nomor ibuku, lama sekali tak ada tanda-tanda akan diangkat.
Lalu ketika aku ku tutup, tiba-tiba ku dengar suara isak tangis seorang wanita
yang jelas itu bukan ibu, dan ternyata Bulik Yatik.
“Halo? Lik, nenek udah nggak ada itu bener
kah?” tanyaku dengan ragu.
Tangisnya yang sesegukan itu pun sebenarnya
sudah menjawab pertanyaanku, lalu ia pun menjawab, “Iya.” Baru saja aku akan
bertanya, “Ibu mana?” telepon pun ditutup. Adikku seketika menangis seraya
berteriak dan ia pun langsung bersiap menuju rumah nenek.
“Kamu ke rumah nenek duluan, aku tak mandi
dulu, ntar aku nyusul,” begitu kataku sambil ribet di depan laptop. Segera
setelah adikku melesat pergi dengan motor Honda Beat putihnya, aku mengirim
laporanku kepada Teppei via email sekaligus memberi kabar bahwa nenekku baru
saja meninggal dan meminta maaf kalau besok aku tak bisa ikut ke Klaten. Dan
aku sangat bersyukur dia bisa mengerti keadaanku dan memberiku ijin.
Deadline 30
September pun tiba dan sama sekali aku belum mengerjakan sepatah kata pun. Sejak
kepergian nenekku, aku selalu berada di rumah beliau untuk mempersiapkan acara
tahlilan yang diadakan setiap malam, sampai-sampai jam tidurku pun terganggu. Siang
itu saat aku bersiap menuju rumah nenek, tiba-tiba handphoneku berdering, ada
SMS masuk dari nomor yang tak ku kenal yang berisikan, “Deadline AJE diundur sampai tanggal 3 Oktober. Ayo ditunggu ya,
masih ada waktu.” Terbersit rasa lega yang luar biasa, di dalam kesempitan
selalu ada kelapangan, dan kalau kita bersungguh-sungguh pasti selalu ada
jalan. Keesokan harinya, yang kebetulan hari Sabtu dan tugasku sebagai asisten
peneliti pun sedikit longgar, ku kerjakan task dari AJE . Dan akhirnya selesai
dalam waktunya, 3 Oktober malam pun ku kirim semua task dari AJE via email.
Aku pun menanti selama 2 minggu, “Ah
mungkin aku nggak lolos, sampai sekarang nggak ada telepon sama sekali,”
desahku sambil menimang-nimang telepon genggamku di dalam kamar. Ku putuskan
untuk mengirim SMS pada Wisnu, “Nu, kamu gimana? Udah dihubungi sama Panitia
AJE?”
“Belum Lin, mungkin nggak lolos kali ya.
Kamu gimana?”
“Aku juga belum ew, hmmm... Yasudahlah,
kita coba lagi tahun depan,” jawabku dengan santai. Keesokan harinya, 18
Oktober, ketika aku sedang asyik dengan
laporan penelitian Teppei, tiba-tiba handphoneku berdering, kali ini bukan
dering SMS, tetapi telepon. Nomor tak dikenal lagi dan bukan nomor Jogja,
dengan ragu-ragu ku angkat, “Halo?”
“Halo. Ini benar dengan Mbak Lina
Setianingrum yang kemarin mendaftar AJE?” tanya suara laki-laki itu.
“Iya, benar,” jawabku singkat.
“Saya Edo, Panitia AJE di Indonesia, ingin
memberi tahu bahwa Mbak Lina lolos ke tahap berikutnya. Wawancara nanti diadakan
sekitar pertengahan sampai akhir November di Jakarta. Kira-kira Mbak Lina bisa
datang? Nanti biaya akomodasi kami yang menanggung.”
Benar-benar serasa mimpi di pagi hari,
“Sebentar ya mas, saya tanya orang tua saya dulu.”
“Oke, nanti bagaimana jadinya SMS saya
saja. Nanti kalau Mbak Lina bisa, saya hubungi lagi untuk jadwal wawancara dan
hari pastinya.”
“Oh iya Mas, terima kasih.”
“Sama-sama, selamat pagi,” tut tut..telepon
pun ditutup, aku masih terpatung berdiri di samping laptopku, serasa masih
seperti mimpi. Aku pun keluar kamar dan langsung memberi tahu kedua orang tuaku
kabar bahagia ini. Awalanya mereka sempat bingung, sama sekali tak mengetahui
kalau aku mengikuti ajang seperti itu. Dan mereka pun memberiku ijin untuk ke
Jakarta, segera ku SMS Wisnu akan hal ini, tapi sayang sampai beberapa hari
berikutnya pun ia tak mendapatkan kabar apa pun dari AJE. Wisnu turut senang
dengan kelolosanku ke tahap wawancara, dan itu membuatku semakin merasa tidak
enak padanya. Dia yang mengajakku, dia yang mengingatkanku kembali akan
mimpi-mimpiku, sedangkan perjuangannya harus terhenti sampai di sini.
Akhirnya bulan November pun aku berangkat
ke Jakarta selama 2 hari 1 malam. Cukup puas dengan hasil wawancara, tapi tetap
saja merasa tak percaya. Dari 30 peserta yang lolos, aku merasa tidak layak
berada di antara mereka. Selama kurang lebih 2 minggu aku menanti kabar dan
ternyata kabar itu datang melalui email, yah aku tidak lolos. Padahal kalau
lolos aku bisa langsung ke Jepang dan termasuk dalam best 3 dan berhak
mendapatkan prize winner, business trip,
dan kesempatan untuk bekerja di Jepang. Aku percaya kalau alur ini adalah alur
kisah hidup terbaik yang diberikan olehNya. Lalu ku putuskan untuk mengikutinya
lagi tahun depan dan aku bertemu kegagalan lagi di titik yang sama.
Di tahun yang sama, 2012 aku dan sahabat
karibku Lita memutuskan untuk mengikuti International Manga Award ke-6 yang
diselenggarakan Kementrian Luar Negeri Jepang. Sedari awal tahun kami sudah
merancang konsep, alur, setting, karakterisasi, timeline, dan story board. Lita
yang seorang mangaka dengan berbagai prestasi
yang ia raih selama ini, ingin menggaetku turut dalam proyek besarnya untuk mengembangkan
karirnya di Jepang sebagai author komiknya. Suatu hari ketika kami sedang
mengerjakan tugas kami masing-masing di rumahnya, aku membuat karakterisasi dan
ia membuat story board, ia mengatakan
kata-kata yang memberiku kekuatan dahsyat untuk meraih mimpi.
“Lin, kalau pun aku pergi ke Jepang, aku
pengen pergi ke sana sama kamu,” ucapnya sambil tersenyum dengan mata sipitnya
itu. Kalimat itu sangat berarti bagiku, sebegitu besarnya ia mempercayaiku,
menilaiku kalau aku mampu mengimbanginya, dan aku memang layak untuk bisa pergi
ke sana. Beberapa bulan berikutnya ketika aku menanti pengumuman dari AJE 2012
dan mengetahui kalau aku lolos ke wawancara, ia mengatakan hal ini padaku,
“Lin, aku tahu kamu itu pasti bisa. Ayo tinggal bentar lagi kamu bisa ke
Jepang. Walaupun aku nggak ikut, tapi aku udah seneng banget kamu bisa ke
Jepang.”
Hatiku tersentak, bahagia rasanya
dipertemukan dengan insan-insan yang luar biasa olehMu ya Allah. Mereka telah
menjadi lentera dalam setiap sudut rute mimpiku dan selalu menerangi jalur
kapalku ketika tersesat dalam kegelapan.
“Hmm... Kalaupun aku harus ke Jepang dengan
seseorang, aku cuma mau kalau ke Jepang sama kamu, Lit. Pastinya lewat IMA,”
Lita hampir menangis mendengar balasanku akan perkataannya itu, dia hanya
berkata, “Lin-chan,” lalu memelukku. Ingin tertawa rasanya, tapi sungai syukur
mengalir semakin deras dan luas dalam diriku, dan aku hanya tersenyum kecil.
Badai yang cukup kencang mulai menyeruak, membuat kapalku terombang-ambing dan
hampir menabrak karang. Goresan-goresan yang ditinggalkan cukup menghambat
perjalanan mimpiku menuju Pulau IMA. Keadaan dan kondisi yang tidak mendukung
akhirnya membuat kami menunda proyek IMA yang ke-6. Kami disibukkan kembali
dengan skripsi yang hampir setiap hari diabsen oleh orang tua kami.
Waktu pun berlalu begitu cepat, tak terasa
sudah tahun 2013 dan kami mulai semakin serius untuk bisa menyelesaikan skripsi
agar bisa mengikuti IMA yang ke-8 tahun 2014. Kebersamaanku bersama para
sahabat yang luar biasa selama ini telah membentuk diriku yang bisa dibilang
tangguh dan senyum selalu menghiasai wajahku setiap saat. Beberapa hari yang
lalu, aku dan Fita saling berbagi kisah, mengulas perjalanan hidup kami selama
beberapa tahun terakhir, dan aku pun menuturkan kisah yang tak pernah ku
ceritakan pada orang lain sebelumnya. Aku selalu menganggap diriku tak berguna,
biasa-biasa saja, dan tak berarti di antara teman-teman jurusanku. Aku selalu
bersembunyi di balik sosok seorang teman bersama Sanah. Jika dia Ketua, maka
aku adalah Sekretarisnya, entah itu secara struktural maupun kondisional.
Aku mengagumi sosoknya yang cerdas dan
cekatan, aku tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya. Namun perlahan aku
menyadari sesuatu, ada yang salah dengan diriku. Wisnu yang saat itu
mengingatkan kembali akan mimpi-mimpiku, serasa bak tamparan keras melayang di
kedua pipiku. Iya, aku dan Sanah itu berbeda, mungkin aku unggul di bidang lain
dan Sanah memang unggul di bidang itu. Setiap orang punya kelebihan dan
kelemahan masing-masing yang tak bisa diukur dan dibandingkan dengan orang
lain. Kita memang sama sebagai manusia, tapi berbeda, pemikiran, karakter, dan
hidup di lingkungan yang berbeda. Perlahan aku pun pergi menjauh dari
bayang-bayang Sanah dan akhirnya aku bisa memperoleh ‘keberadaanku’ sendiri
secara utuh tanpa tertutup bayang-bayang orang lain.
Fita yang mendengarkan ceritaku hanya
tersenyum, lalu berkata, “Sebenarnya aku dulu juga mbatin Lin. Kamu itu punya
leadership sebenarnya, tapi nggak kamu tunjukin.”
“Hmm.. Aku males jadi pusat perhatian,
ngerasa nggak PD aja, apakah aku ini emang bener-bener mampu.”
“Tapi yo alhamdulillah kalau kamu udah
sadar,, hahahaha...” dia tertawa, entah mengejek atau senang, tapi sepertinya
yang terakhir. “Kamu mungkin bukan tipikal yang suka nunjukin leadership kayak
Luthfi sama Agis. Aku ngerasa kamu itu punya sesuatu. Kamu tau sendiri kan
kalau aku ini orangnya plin plan, tapi kalau sama kamu aku nggak berani
macam-macam. Misalnya kamu cuma tanya, ‘Jadinya ini mau ke mana Fit? Kamu
pengen makan apa?’ Ya aku nggak berani jawab plin plan, nggak tahu kenapa,”
ungkapnya sambil menatapku.
Aku hanya menjawab, “Hmm... iya kah?”
sambil nyengir. Sesi curhat di kamar kos Fita, di Pandega itu semakin menambah
rasa percaya diriku yang menjadi suntikan baru bagi perspektifku yang selalu
optimistik, “Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, dan aku sebagai manusia
menyerahkan semua padaNya. Aku berusaha semampuku, dan sisanya ku serahkan
padaNya.” Banyak inspirasi dan kekuatan mimpi yang ku dapatkan dari sahabat dan
semua berawal dari sebuah negara, Jepang. Ada banyak kata-kata yang
menginspirasiku dari negri Sakura itu.
“Kerja keras itu pasti akan berbuah「努力は屹度報われる。」.”
[Mizuki Ashiya, Hanazakari no Kimitachi e, 2007]
“Segala sesuatu yang ku inginkan, akan ku
raih dengan tangan ini「欲しいものはこの手でつかみ取る!」!” [Kapten Marvelous, Kaizoku
Sentai Gokaiger, 2011]
“Tidak ada yang tak berguna di dunia ini「この世に無駄なもの何ていない!」!”
[Gentarou Kisaragi, Kamen Rider Fourze, 2011]
“Karena tidak sempurna, itulah manusia.
Karena tidak sempurna kami membantu satu sama lain. Karena tidak sempurna kami
saling mempercayakan harapan. Tanpa back
up pun manusia masih bisa terhubung satu sama lain「不完全だから、人間何だ。不完全だからたつけあうし。不完全だから、思いを託す。人間はバックアップなくたって、繋がっていく。」.”
[Hiromu Sakurada, Tokumei Sentai Go-Busters, 2013]
Dari sebuah negeri aku belajar, dari
catatan yang telah ditorehkan olehNya aku berkembang, tak ada yang lebih indah
selain selalu bisa berucap, “Alhamdulillah...” Selama beberapa tahun terakhir
ini, sketsa padang rumput hijau yang indah terlukis di hadapanku. Setiap saat
berubah dan selalu dipenuhi senyum keceriaan kupu-kupu. Ya, perlahan dan pasti ku ayunkan langkah
kaki, setiap saat selalu semakin dekat dengan mimpi-mimpi itu, dan perjalanan
mimpi pun di mulai...
~The
End~