Pages - Menu

Monday, April 29, 2013

Step by Step, One Step Closer ~夢の旅が始まる~ ~Perjalanan Mimpi pun Dimulai~


Selangkah demi selangkah, mulai ku rajut lagi mimpiku di atas lembaran kain putih polos memanjang tak terhingga itu. Pola-pola yang sebelumnya terputus dan kabur, kini menjadi lebih jelas dan mulai terlihat menyambung satu sama lain menuju ke arah yang sama. Detingan jarum jam yang selalu berputar itu tak henti juga melakukan hal yang sama, tak ubahnya dengan ‘mati’. Namun setiap dentingan jarum jam itu, mengubah setiap jengkah dalam hidupku. Walaupun ‘dia mati’, tetapi memberiku sensasi yang berbeda, kadang naik, kadang turun, datar, bahkan bergejolak. Ya, dentingannya itu adalah waktu,  tak bisa lepas dari kehidupan setiap makhluk, atau bisa dibilang kita berlari, berjalan, di dalam waktu.
Waktu yang telah ku lalui selama ini, berbekas indah dalam rajutan putihku. Kadang memang banyak yang terbuang tanpa manfaat sama sekali, tetapi tak bisa dikatakan kalau semua itu ‘percuma’. Tidak, tidak sama sekali. Waktu sekalipun ia terbuang, diajarinya aku arti penting dari waktu, darinya aku belajar, belajar merajut mimpi dan hidup. Diskusi dan sharing sore ini dengan seorang kakak angkatan, di sebuah warung sederhana tongkrongan mahasiswa, cukup menyegarkan pikiran dan memantapkan hati untuk tetap bermimpi dan menjaga ‘hidup dalam realita’.  Ditemani hidangan yang hangat siap santap serta rintik-rintik hujan, menambah suasana petang semakin sedap.
“Oh iya,” sambil memberikan bungkusan tas karton kecil padaku, “selamat ulang tahun ya.. Maaf ya, aku emang sengaja nggak beli kado,” ucapnya sambil tersenyum padaku.
“Apa ni isinya?” tanyaku penasaran sambil mencoba mengintip ke dalam. Dibungkus kertas kado motif batik yang apik dengan pita mengelilingi bagian atasnya, sedikit berat memang dan tak berbunyi ketika ku coba mengocoknya.
“Ah buka aja sendiri,” timpal mbak Nia sambil menyruput teh panas di hadapannya, “eh dibaca dulu ya ucapannya.”
“Wah apa nih?” berbentuk gelas memang, tapi bukan gelas lagi karena telah beralih fungsi. Gelas putih ukuran sedang dengan tutup rapat berwarna cokelat tua, ditempel ucapan ‘selamat ulang tahun’ dan doa didepannya dengan kertas berwarna oranye. Di dalam gelas terdapat banyak origami berbentuk bangau yang berukuran kecil dan berwarna-warni. Aku hanya tersenyum membaca kata-kata terakhir, “meski tak selengkap pelangi, tapi setidaknya ini mengingatkan bahwa hidup ini warnanya beragam”. Dan aku hanya tersenyum sambil berucap, “makasih ya mbak, love it...” ku taruh kembali ke dalam tas karton dan menyandarkannya ke dinding bata di sampingku. Walaupun terlambat, tapi terasa hangat dan lembut menyentuh rasaku, terima kasih.
Perbincangan petang itu berkutat tentang mimpi dan realitas hidup, adakalanya kita terkukung dalam realita dan membuat segalanya seperti tak ada asa. Mimpi hanyalah mimpi, kita hidup di realita, bukan dunia fiksi, kurang lebih begitulah orang-orang mencitrakan ‘mimpi’. Mbak nia adalah sosok yang membuatku selalu bisa merasa bahwa aku mampu, aku layak, dan aku adalah aku. Walaupun terpaut 4 tahun, aku bisa menemukan apa yang ku cari selama ini di dalam dirinya. 2 jam sudah kami bersendawa ria di warung yang menyajikan hidangan serba pedas itu, dan inti dari sharing kali ini adalah, “it’s okay kalau kamu punya mimpi, punya target... Asalkan ketika kamu nggak bisa meraih itu dan diberikan pengganti yang lain oleh Allah, jangan nge-down lama-lama.”
Aku tersenyum membalasnya, “kayak nggak tau aku itu gimana mbak, selama ini aku selalu begitu, tak perlu lama-lama menyesal, galau, dan lain sebagainya. Aku orangnya mudah menerima kok,” dan diakhirilah pembicaraan kami dengan rasa puas, puas karena kenyang, puas berbagi kisah. Sejak aku mengenal mimpi, lembaran kanvasku selalu ceria. Bunga-bunga yang terlukis selalu merekah tersenyum. Tak ada air mata menetes dari ujung-ujung tangkainya. Hanya ketika awan bergulung-gulung menutupi sinar mentari, sesaat bunga-bunga itu melayu. Sang angin datang mengusir awan-awan dan menyapa lembut bunga-bunga bersama mentari, begitulah hari-hari yang ku lukis di tumpukan-tumpukan kanvas itu.
Rasanya ucapan terima kasih pun tak cukup ku uraikan pada banyak hal yang telah memberiku kekuatan mimpi, memberitahuku arti mimpi, mengajariku bagaimana bermimpi, 〃何度でも「ありがとう、ありがとう」って言うたい。でもそれは足りないと思っている。〃[1] Terima kasih, ya, kata-kata yang luar biasa, sesaat menyentak dan menyentuh hati. Setinggi apa pun, setebal apa pun pintu hatinya, ‘terima kasih’-lah yang akan mengetuknya dengan nyaring dan lembut.
Mimpi mengajariku apa itu arti kesungguhan. Pantang menyerah tidak semudah kau menuliskannya di atas kertas dengan pensil yang bisa kau hapus semaumu. Tepat 7 tahun yang lalu, di bulan yang sama, ku mulai langkah pertamaku masuk ke geladak kapal mimpi. Rute dan gol sudah ditetapkan, kapten dan kru kapal lainnya pun sudah bersiap, hanya saja badai masih bergemuruh dalam diri sang kapten. Gemetar, gelisah, gugup, menanti keluarnya lisensi untuk pelayarannya yang pertama kali. Kisah ini bermula ketika aku duduk di bangku SMA kelas X. Aku yang sedari dulu selalu menyimpan ketertarikan dan keingintahuan akan sebuah negeri di seberang utara sana, akhirnya menemukan persinggahan.
Jepang, itulah yang memperkenalkanku dengan mimpi dan membentuk diriku yang sekarang ini. Ada yang bilang ‘pertemuan-pertemuan dengan orang-orang tertentu itulah yang akan menghubungkan kita dengan segala sesuatu di luar cangkang kita’, itulah yang ku alami. Pertemuan-pertemuan itu serasa sudah diatur dan dicatat dalam buku kehidupanku oleh Sang Maha Kuasa, apa yang selama ini paling tidak ku inginkan justru diberikan-Nya padaku. Ada sebuah SMA yang paling tidak ingin ku masuki, bahkan sampai hari terakhir pendaftaran pun aku masih mengelak. Namun Allah berkata lain, Dia berikan aku rejeki yang paling ingin ku tolak. Masuklah aku di sebuah SMA di Jogja yang terkenal dengan ‘muhammadiyahnya negeri’ itu.
Pertemuanku dengan berbagai orang, perlahan membuka celah-celah cahaya yang menyinari anak tangga menuju istana mimpi. Pertemuanku dengan Yuu-chan, Nana, Laila, Lita, Erna Sensei, Eva Sensei, Lina Sensei, Iin Sensei, dan para sahabat lain telah merubah setiap jengkal waktuku. Suatu hari aku bercerita pada Erna Sensei, “Sensei, aku sebenarnya udah tertarik sama Jepang dari lama. Pengen rasanya sekali aja bisa ke sana,” ungkapku sambil cengengesan di depan kelas selesai ekstrakurikuler.
Sensei membalas senyum dan berkata, “Ah coba aja cari beasiswa pendidikan ke sana. Cari beasiswa buat kuliah 2 tahun lagi tuh. Namanya Monbukagakusho, dari Kedubes Jepang, Lin. Nanti sensei kasih tau alamat webnya, kalau mau infonya ada di JASSO.”
“Wah kayaknya seru tuh, makasih ya sensei buat infonya,” dengan wajah sumringah aku berlagak seperti anak TK yang mendapatkan permen.
“Kapan-kapan main aja ke rumah sensei, deket kok, tuh gang depan sekolah masuk, ntar sensei cerita banyak deh tentang Jepang. Kalau butuh bantuan apa-apa, calling sensei aja,” jawabnya lembut sambil melihat jam tangannya. “Ah sensei pergi dulu ya, habis ini masih mau ngajar di JACO.”
“Siap sensei! Ki wo tsukete kudasai「気をつけて下さい![2] !” ucapku dengan semangat sambil melambaikan tangan. Perbincangan sore itu dengan Erna Sensei ku ceritakan pada Nana dan Yuu-chan yang tak berapa lama keluar dari kelas dan menghampiriku. Mereka sangat antusias dan langsung berniat untuk mencobanya. Menempuh pendidikan tinggi di Jepang telah menjadi mimpi kami sejak sore itu. Bulan pun berganti dan kami semakin dekat dengan sosok Erna Sensei yang sangat ramah dan grapyak kepada murid-muridnya. Bahkan mungkin sudah sering kami bersilaturahmi ke rumahnya.
Kedekatan dengan Erna Sensei membawa beberapa perubahan dalam kami melihat apa yang disebut masa depan dan cita-cita. Mungkin pertemuan dengan beliaulah yang membuat sejarah hidupku berbelok dan berintrik, kadang penuh dengan kemelut emosi, ketenangan batin yang luar biasa, sampai pada kebahagiaan masa sekolah yang tak terukur nilianya. Entah dari mana asalnya, aku menjadi lebih jujur pada diriku sendiri, pada keinginanku sendiri dan aku serasa lepas dari bayang-bayang ayahku yang selalu menyindirku karena aku gagal masuk jurusan IPA. Setiap air mata yang ku teteskan karena terlukai perasaan beliau kadang berujung pada kebencian dan kemarahan, namun sejak ku bulatkan tekadku untuk mengejar mimpi, aku mengubah semuanya itu menjadi kekuatan. Bukan dibalas dengan kata-kata, tapi cukup ku buktikan saja kalau apa yang selama ini ayah katakan itu tidak benar.
Setiap kali aku mengingat perkataan beliau, “Arep dadi opo kowe mlebu IPS? Akeh wong IPS kae podho nganggur, lulusan hukum kae delok, ming podho nganggur. Mending kowe ndisik nek mlebu IPA, iso dadi dokter, iso buka praktek, duite akeh (Mau jadi apa kamu masuk IPS? Banyak orang IPS nganggur, lihat itu lulusan hukum, cuma pada nganggur. Lebih baik kamu dulu masuk IPA, bisa jadi dokter, bisa buka praktek, banyak uangnya).” Ya, aku hanya bisa masuk ke kamar dan menangis, merasa diriku sangat bodoh dan tak berguna. Tapi itu hanya sesaat, tak sampai sejam, aku sudah bisa mengubahnya menjadi sumber kekuatan terbesarku.
Tahun terakhirku di SMA ku habiskan untuk belajar dan belajar, bahkan hari sabtu dan minggu sekalipun. Sesaat aku sangat menikmatinya dan entah sejak kapan menjadi sesuatu kegiatan yang sangat ku sukai. Bibit yang ku tanam dan rawat selama 1 tahun terakhir sebentar lagi akan mekar. Bibit-bibit bunga itu mulai menguncupkan tunas. Malam semakin larut dan hanya remang cahaya emas sinar bulan yang menemaninya. Seperti bulan yang bermandikan cinta, dalam senyum hangatnya tunas-tunas itu tumbuh dan mulai berkuncup. Denting fajar yang mulai berbunyi, membangunkannya. Kuncup-kuncup itu mekar memancarkan senyum menyejukkan. Dandelion, semerbak di taman mimpi. Pupuk doa yang ku taburkan pada dandelion selalu membuatnya semakin kuat dan sehat, tanpa lelah selau disirami air doa dari ayah ibu.
Ku pasrahkan segalanya pada Sang Pencipta, aku hanya berharap yang terbaik dariNya. Ya, dan Dia memberiku jawaban yang luar biasa, UNAS alhamdulillah, UGM luar biasa. Dan ayah pun hanya bisa tersenyum menyaksikan itu semua tanpa sepatah kata pun keluar darinya. Walaupun ada beberapa bunga yang layu dan akhirnya gugur tak berbekas, tapi aku merasa bisa melihat hari esok yang lebih baik. Bunga dandelion dengan label Monbukagakusho itulah yang layu, tapi tanpa sedikitpun rasa sesal terlukis dari tangkai-tangkainya yang meradang. Bunga-bunga dandelion Yuu-chan dan Nana dengan label yang sama pun juga melayu. Dan kami pun memulai perjalanan kami dengan rute masing-masing. Kapal kami pun berpisah di jalur realita dan tanpa sedikit pun senyum dalam tangis itu tertoreh.
“Mungkin habis ini kita akan terpisah, beda sekolah bukan berarti kita nggak pernah ketemu lagi ya,” ucapku sambil mencairkan suasana yang acak adul antara senang, sedih, dan bangga. Malam itu di acara tutup tahun sekolah Yuu-chan, Nana, dan Laila hanya tersenyum menanggapinya, seperti biasa ekspresi mereka, tak berubah sedikitpun. Kami hanya saling pandang, tak bersuara sedikit pun, hanya menikmati acara tutup tahun yang malam itu kami dari Club Jepang ANATA dan Ekstrakurikuler Bahasa Jepang menampilkan Cosplay Cabaret dengan membawakan kisah Inuyasha yang cukup populer saat itu.
Aku yang mulai meletakkan album kenangan itu, kini melirik dunia perguruan tinggi yang mengajariku lebih akan banyak hal, membawaku pada gerbang kedewasaan. Ketika ku buka gerbang itu perlahan, dunia mimpi dan realita seakan semakin jauh terpisah. Selama 2 tahun pertama ku putuskan untuk ku habiskan waktuku di dunia nyata, di mana kita ini hidup sebagai seorang insan yang sesungguhnya. Pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang membelokkan titik-titik mati dalam ruteku benar-benar membuat diriku merasa seperti bidak-bidak catur. Aku merasa sangat kecil sekali di hadapan Allah, Dia dengan segala kehendak dan kuasaNya yang luar biasa telah mencatat hidupku dengan sangat indah.
Berawal dari persahabatanku yang semakin kuat dengan seorang Yuli yang sudah ku kenal sejak masih SMP, dia menghubungkan rantai-rantai ikatanku dengan Fita, Ikhsan, Andhi, Aryo, dan Wisnu. Ku lalui hari-hariku di kampus dengan mereka, walaupun kami berbeda jurusan satu sama lain, namun magnet kuat Jama’ah Muslim Fisipol dan Aliansi 08[3] menyatukan kami. Perkenalanku dengan Wisnu yang tak disengaja itu, mengingatkanku kembali akan mimpiku yang hampir berkarat. Dia menyirami kembali bunga-bunga dandelionku yang daunnya sudah mulai berguguran itu. Tahun 2011 dia mengajakku untuk mengikuti sebuah ajang internasional, Asian Job Express (AJE) dengan hadiah utama berupa tawaran pekerjaan di perusahaan-perusahaan bergengsi[4] di Jepang, prize winner berupa uang U$ 3600, dan 4 hari business trip di Tokyo, Jepang.
Sebenarnya saat itu aku sedang disibukkan membantu penelitian seorang mahasiswa S2 dari Universitas Nagoya Jepang yang kebetulan tema penelitiannya sama dengan tema skripsiku. Ditambah lagi penelitian dilakukan di Klaten yang menguras banyak waktu dan tenagaku ketika di jalan mau pun di lapangan. Deadline pengumpulan paper dan dokumen lainnya hanya tinggal seminggu lagi dan aku masih belum sempat untuk menyentuhnya sama sekali. Malam itu ku putuskan untuk mengirim SMS pada Wisnu.
“Nu, kamu udah selesai? Udah kamu kirim? Aku belum sempet ngerjain sama sekali ew, duh piye iki?” ketikku di handphone flip Sony Ericsson unguku itu. Tak berapa lama, SMSku berbalas.
“Udah dari lama aku kirimnya. Emang kamu sibuk apa? Tinggal seminggu lagi lho.”
Lalu ku balas begini, “Aku belum cerita ya, aku bantuin penelitian mahasiswa dari Nagoya neh, di Klaten pula. Pulang malem terus aku, terus nenekku juga lagi opname ini. Bisa kirimin punyamu ke emailku gak? Pengen tau bentuknya, formatnya kayak apa.”
“Oke, bentar ya.” Tak berapa lama handphoneku berbunyi lagi, lalu ku buka SMS itu, “Udah ku kirim,” begitu balas Wisnu.
Dan aku hanya membalasnya, “Sankyuu ya..” yang berarti terima kasih. Ku buka email yang dikirim oleh Wisnu, namun tetap saja aku tak tahu bagaimana harus mengerjakan task yang diberikan. Wisnu yang mengambil perusahaan Bandai Namco task-nya sangat berbeda denganku yang mengambil Idemitsu Kosan, perusahaan yang bergerak di bidang industri petroleum. Task dari Idemitsu membutuhkan banyak sekali data-data untuk bisa menyelesaikannya dan sama sekali aku belum mendapatkan data-data yang dibutuhkan seperti GDP Indonesia, konsumsi dan produksi minyak Indonesia, dan lain sebagainya.  Akhirnya ku biarkan begitu saja dan kembali mengerjakan laporan penelitian dan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh Teppei[5].
H-3 deadline AJE, ketika aku sedang asyik menyelesaikan tugas dari Teppei, menjelang maghrib sore itu, adikku tiba-tiba masuk ke kamar dengan raut muka cemas.
“Mbak, Kempuk sms kalau nenek udah nggak ada. Cepet telpon ibu, beneran apa nggak.” Aku hanya tercengang dan terdiam sesaat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kecilnya itu. Segera ku ambil handphone dan ku dial nomor ibuku, lama sekali tak ada tanda-tanda akan diangkat. Lalu ketika aku ku tutup, tiba-tiba ku dengar suara isak tangis seorang wanita yang jelas itu bukan ibu, dan ternyata Bulik Yatik.
“Halo? Lik, nenek udah nggak ada itu bener kah?” tanyaku dengan ragu.
Tangisnya yang sesegukan itu pun sebenarnya sudah menjawab pertanyaanku, lalu ia pun menjawab, “Iya.” Baru saja aku akan bertanya, “Ibu mana?” telepon pun ditutup. Adikku seketika menangis seraya berteriak dan ia pun langsung bersiap menuju rumah nenek.
“Kamu ke rumah nenek duluan, aku tak mandi dulu, ntar aku nyusul,” begitu kataku sambil ribet di depan laptop. Segera setelah adikku melesat pergi dengan motor Honda Beat putihnya, aku mengirim laporanku kepada Teppei via email sekaligus memberi kabar bahwa nenekku baru saja meninggal dan meminta maaf kalau besok aku tak bisa ikut ke Klaten. Dan aku sangat bersyukur dia bisa mengerti keadaanku dan memberiku ijin.
Deadline 30 September pun tiba dan sama sekali aku belum mengerjakan sepatah kata pun. Sejak kepergian nenekku, aku selalu berada di rumah beliau untuk mempersiapkan acara tahlilan yang diadakan setiap malam, sampai-sampai jam tidurku pun terganggu. Siang itu saat aku bersiap menuju rumah nenek, tiba-tiba handphoneku berdering, ada SMS masuk dari nomor yang tak ku kenal yang berisikan, “Deadline AJE diundur sampai tanggal 3 Oktober. Ayo ditunggu ya, masih ada waktu.” Terbersit rasa lega yang luar biasa, di dalam kesempitan selalu ada kelapangan, dan kalau kita bersungguh-sungguh pasti selalu ada jalan. Keesokan harinya, yang kebetulan hari Sabtu dan tugasku sebagai asisten peneliti pun sedikit longgar, ku kerjakan task dari AJE . Dan akhirnya selesai dalam waktunya, 3 Oktober malam pun ku kirim semua task dari AJE via email.
Aku pun menanti selama 2 minggu, “Ah mungkin aku nggak lolos, sampai sekarang nggak ada telepon sama sekali,” desahku sambil menimang-nimang telepon genggamku di dalam kamar. Ku putuskan untuk mengirim SMS pada Wisnu, “Nu, kamu gimana? Udah dihubungi sama Panitia AJE?”
“Belum Lin, mungkin nggak lolos kali ya. Kamu gimana?”
“Aku juga belum ew, hmmm... Yasudahlah, kita coba lagi tahun depan,” jawabku dengan santai. Keesokan harinya, 18 Oktober,  ketika aku sedang asyik dengan laporan penelitian Teppei, tiba-tiba handphoneku berdering, kali ini bukan dering SMS, tetapi telepon. Nomor tak dikenal lagi dan bukan nomor Jogja, dengan ragu-ragu ku angkat, “Halo?”
“Halo. Ini benar dengan Mbak Lina Setianingrum yang kemarin mendaftar AJE?” tanya suara laki-laki itu.
“Iya, benar,” jawabku singkat.
“Saya Edo, Panitia AJE di Indonesia, ingin memberi tahu bahwa Mbak Lina lolos ke tahap berikutnya. Wawancara nanti diadakan sekitar pertengahan sampai akhir November di Jakarta. Kira-kira Mbak Lina bisa datang? Nanti biaya akomodasi kami yang menanggung.”
Benar-benar serasa mimpi di pagi hari, “Sebentar ya mas, saya tanya orang tua saya dulu.”
“Oke, nanti bagaimana jadinya SMS saya saja. Nanti kalau Mbak Lina bisa, saya hubungi lagi untuk jadwal wawancara dan hari pastinya.”
“Oh iya Mas, terima kasih.”
“Sama-sama, selamat pagi,” tut tut..telepon pun ditutup, aku masih terpatung berdiri di samping laptopku, serasa masih seperti mimpi. Aku pun keluar kamar dan langsung memberi tahu kedua orang tuaku kabar bahagia ini. Awalanya mereka sempat bingung, sama sekali tak mengetahui kalau aku mengikuti ajang seperti itu. Dan mereka pun memberiku ijin untuk ke Jakarta, segera ku SMS Wisnu akan hal ini, tapi sayang sampai beberapa hari berikutnya pun ia tak mendapatkan kabar apa pun dari AJE. Wisnu turut senang dengan kelolosanku ke tahap wawancara, dan itu membuatku semakin merasa tidak enak padanya. Dia yang mengajakku, dia yang mengingatkanku kembali akan mimpi-mimpiku, sedangkan perjuangannya harus terhenti sampai di sini.
Akhirnya bulan November pun aku berangkat ke Jakarta selama 2 hari 1 malam. Cukup puas dengan hasil wawancara, tapi tetap saja merasa tak percaya. Dari 30 peserta yang lolos, aku merasa tidak layak berada di antara mereka. Selama kurang lebih 2 minggu aku menanti kabar dan ternyata kabar itu datang melalui email, yah aku tidak lolos. Padahal kalau lolos aku bisa langsung ke Jepang dan termasuk dalam best 3 dan berhak mendapatkan prize winner, business trip, dan kesempatan untuk bekerja di Jepang. Aku percaya kalau alur ini adalah alur kisah hidup terbaik yang diberikan olehNya. Lalu ku putuskan untuk mengikutinya lagi tahun depan dan aku bertemu kegagalan lagi di titik yang sama.
Di tahun yang sama, 2012 aku dan sahabat karibku Lita memutuskan untuk mengikuti International Manga Award ke-6 yang diselenggarakan Kementrian Luar Negeri Jepang. Sedari awal tahun kami sudah merancang konsep, alur, setting, karakterisasi, timeline, dan story board. Lita yang seorang mangaka[6] dengan berbagai prestasi yang ia raih selama ini, ingin menggaetku turut dalam proyek besarnya untuk mengembangkan karirnya di Jepang sebagai author komiknya. Suatu hari ketika kami sedang mengerjakan tugas kami masing-masing di rumahnya, aku membuat karakterisasi dan ia membuat story board, ia mengatakan kata-kata yang memberiku kekuatan dahsyat untuk meraih mimpi.
“Lin, kalau pun aku pergi ke Jepang, aku pengen pergi ke sana sama kamu,” ucapnya sambil tersenyum dengan mata sipitnya itu. Kalimat itu sangat berarti bagiku, sebegitu besarnya ia mempercayaiku, menilaiku kalau aku mampu mengimbanginya, dan aku memang layak untuk bisa pergi ke sana. Beberapa bulan berikutnya ketika aku menanti pengumuman dari AJE 2012 dan mengetahui kalau aku lolos ke wawancara, ia mengatakan hal ini padaku, “Lin, aku tahu kamu itu pasti bisa. Ayo tinggal bentar lagi kamu bisa ke Jepang. Walaupun aku nggak ikut, tapi aku udah seneng banget kamu bisa ke Jepang.”
Hatiku tersentak, bahagia rasanya dipertemukan dengan insan-insan yang luar biasa olehMu ya Allah. Mereka telah menjadi lentera dalam setiap sudut rute mimpiku dan selalu menerangi jalur kapalku ketika tersesat dalam kegelapan.
“Hmm... Kalaupun aku harus ke Jepang dengan seseorang, aku cuma mau kalau ke Jepang sama kamu, Lit. Pastinya lewat IMA,” Lita hampir menangis mendengar balasanku akan perkataannya itu, dia hanya berkata, “Lin-chan,” lalu memelukku. Ingin tertawa rasanya, tapi sungai syukur mengalir semakin deras dan luas dalam diriku, dan aku hanya tersenyum kecil. Badai yang cukup kencang mulai menyeruak, membuat kapalku terombang-ambing dan hampir menabrak karang. Goresan-goresan yang ditinggalkan cukup menghambat perjalanan mimpiku menuju Pulau IMA. Keadaan dan kondisi yang tidak mendukung akhirnya membuat kami menunda proyek IMA yang ke-6. Kami disibukkan kembali dengan skripsi yang hampir setiap hari diabsen oleh orang tua kami.
Waktu pun berlalu begitu cepat, tak terasa sudah tahun 2013 dan kami mulai semakin serius untuk bisa menyelesaikan skripsi agar bisa mengikuti IMA yang ke-8 tahun 2014. Kebersamaanku bersama para sahabat yang luar biasa selama ini telah membentuk diriku yang bisa dibilang tangguh dan senyum selalu menghiasai wajahku setiap saat. Beberapa hari yang lalu, aku dan Fita saling berbagi kisah, mengulas perjalanan hidup kami selama beberapa tahun terakhir, dan aku pun menuturkan kisah yang tak pernah ku ceritakan pada orang lain sebelumnya. Aku selalu menganggap diriku tak berguna, biasa-biasa saja, dan tak berarti di antara teman-teman jurusanku. Aku selalu bersembunyi di balik sosok seorang teman bersama Sanah. Jika dia Ketua, maka aku adalah Sekretarisnya, entah itu secara struktural maupun kondisional.
Aku mengagumi sosoknya yang cerdas dan cekatan, aku tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya. Namun perlahan aku menyadari sesuatu, ada yang salah dengan diriku. Wisnu yang saat itu mengingatkan kembali akan mimpi-mimpiku, serasa bak tamparan keras melayang di kedua pipiku. Iya, aku dan Sanah itu berbeda, mungkin aku unggul di bidang lain dan Sanah memang unggul di bidang itu. Setiap orang punya kelebihan dan kelemahan masing-masing yang tak bisa diukur dan dibandingkan dengan orang lain. Kita memang sama sebagai manusia, tapi berbeda, pemikiran, karakter, dan hidup di lingkungan yang berbeda. Perlahan aku pun pergi menjauh dari bayang-bayang Sanah dan akhirnya aku bisa memperoleh ‘keberadaanku’ sendiri secara utuh tanpa tertutup bayang-bayang orang lain.
Fita yang mendengarkan ceritaku hanya tersenyum, lalu berkata, “Sebenarnya aku dulu juga mbatin Lin. Kamu itu punya leadership sebenarnya, tapi nggak kamu tunjukin.”
“Hmm.. Aku males jadi pusat perhatian, ngerasa nggak PD aja, apakah aku ini emang bener-bener mampu.”
“Tapi yo alhamdulillah kalau kamu udah sadar,, hahahaha...” dia tertawa, entah mengejek atau senang, tapi sepertinya yang terakhir. “Kamu mungkin bukan tipikal yang suka nunjukin leadership kayak Luthfi sama Agis. Aku ngerasa kamu itu punya sesuatu. Kamu tau sendiri kan kalau aku ini orangnya plin plan, tapi kalau sama kamu aku nggak berani macam-macam. Misalnya kamu cuma tanya, ‘Jadinya ini mau ke mana Fit? Kamu pengen makan apa?’ Ya aku nggak berani jawab plin plan, nggak tahu kenapa,” ungkapnya sambil menatapku.
Aku hanya menjawab, “Hmm... iya kah?” sambil nyengir. Sesi curhat di kamar kos Fita, di Pandega itu semakin menambah rasa percaya diriku yang menjadi suntikan baru bagi perspektifku yang selalu optimistik, “Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, dan aku sebagai manusia menyerahkan semua padaNya. Aku berusaha semampuku, dan sisanya ku serahkan padaNya.” Banyak inspirasi dan kekuatan mimpi yang ku dapatkan dari sahabat dan semua berawal dari sebuah negara, Jepang. Ada banyak kata-kata yang menginspirasiku dari negri Sakura itu.
“Kerja keras itu pasti akan berbuah「努力は屹度報われる。」.” [Mizuki Ashiya, Hanazakari no Kimitachi e, 2007]

“Segala sesuatu yang ku inginkan, akan ku raih dengan tangan ini「欲しいものはこの手でつかみ取る!!” [Kapten Marvelous, Kaizoku Sentai Gokaiger, 2011]

“Tidak ada yang tak berguna di dunia ini「この世に無駄なもの何ていない!!” [Gentarou Kisaragi, Kamen Rider Fourze, 2011]

“Karena tidak sempurna, itulah manusia. Karena tidak sempurna kami membantu satu sama lain. Karena tidak sempurna kami saling mempercayakan harapan. Tanpa back up pun manusia masih bisa terhubung satu sama lain「不完全だから、人間何だ。不完全だからたつけあうし。不完全だから、思いを託す。人間はバックアップなくたって、繋がっていく。」.” [Hiromu Sakurada, Tokumei Sentai Go-Busters, 2013]
Dari sebuah negeri aku belajar, dari catatan yang telah ditorehkan olehNya aku berkembang, tak ada yang lebih indah selain selalu bisa berucap, “Alhamdulillah...” Selama beberapa tahun terakhir ini, sketsa padang rumput hijau yang indah terlukis di hadapanku. Setiap saat berubah dan selalu dipenuhi senyum keceriaan kupu-kupu. Ya, perlahan dan pasti ku ayunkan langkah kaki, setiap saat selalu semakin dekat dengan mimpi-mimpi itu, dan perjalanan mimpi pun di mulai...

~The End~


[1]berulang kali ingin ku katakan ‘terima kasih, terima kasih’. Tapi ku pikir itu tidaklah cukup.”
[2] mohon hati-hati ya!
[3] Forum Angkatan Muslim Fisipol 2008
[4] Terdapat 3 perusahaan, Idemitsu Kosan, Muji Ryohin Keikaku, dan Bandai Namco.
[5] Teppei Tsurubuchi, mahasiswa dari Universitas Nagoya.
[6] Pembuat manga/komik.

No comments:

Post a Comment