Apa
yang kau ketahui tentangnya? Tak ada. Aku hanya menjumpainya selama musim
penghujan. Aku tak tahu menahu tentang dirinya, barang sehelai sel pun. Tapi
akhirnya aku bertemu dengannya setelah tangisan langit mengguyur kota ini
selama beberapa hari. Beberapa jam yang lalu saat aku menunggu di kursi tunggu
lorong sebuah rumah sakit, mereka datang berhamburan. Satu per satu dengan
riangnya terbang ke sana kemari. “Ah akhirnya aku bisa keluar di sela-sela jeda
hujan malam ini,” kurang lebih itu yang mereka rasa. Laron, hewan musiman yang
hanya berkelana saat hujan datang dan selalu tertarik pada cahaya.
Aku
melihat mereka mengepakkan sayap-sayap tipisnya berwarna kecoklatan dan
mengitari lorong di bawah iluminasi lampu-lampu di atasku. Aku hanya tersenyum,
lalu termenung ketika melihat sebagian dari mereka terbang semakin rendah, merayap
di lantai dan akhirnya kehilangan sayap-sayapnya. Kutengok ke sebelah kanan,
sebagian dari mereka ada yang terinjak dan menjadi bangkai. Aku terdiam, baru
selepas maghrib mereka menikmati kebebasan untuk bertualang dan menjelang isya’
mereka sudah menjemput ajal. Aku merenung. “Untuk apa mereka hidup? Nyawa
mereka tak ada hitungan hari, bahkan hanya beberapa menit.”
Dan
aku teringat pada salah satu firman-Nya dalam QS Shad ayat 27:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا
بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ
كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ
“Dan Kami
tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa
hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah
orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”
Allah
menciptakan segala sesuatu karena ada manfaatnya. Kita belum menyadarinya saja
karena keterbatasan yang kita miliki. Begitu juga diriku yang baru saja
mengetahuinya. Banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari kehidupan seekor
laron yang sangat singkat.
Ia tetap mengepakkan sayap walaupun
tahu ia akan jatuh
Ia tetap berjuang untuk terbang
meskipun tahu sayap-sayapnya akan runtuh
Ia tetap pergi bertualang padahal ia
tahu tak akan kembali ke rumah keesokan hari
Ia pejuang yang tak pernah takut pada
mati, hanya takut pada Sang Illahi
Laron
yang sudah tahu bahwa waktu hidupnya di dunia sangat singkat tetap berjuang. Mereka
tetap terbang dan keluar bertualang, walaupun tahu di luar sana nyawanya akan
dipenggal. Bagaimana dengan kita? Lama singkatnya hidup manusia hanyalah
rahasia Allah semata. Namun apakah kita lebih baik dari mereka?
Melesat
seketika dalam benakku bahwa aku tidak lebih baik dari mereka. Belum pernah aku
berjuang seperti mereka sampai terkulai, sampai detik akhir nafas berhembus.
Kita yang diberi waktu panjang untuk menikmati gemerlap dunia seharusnya bisa
berjuang lebih daripada mereka. Manusia yang diciptakan dalam kondisi
sebaik-baiknya, lengkap dengan akal dan pikiran, harusnya mampu berbuat lebih.
Mampu berjuang lebih dari seekor laron yang tak memiliki kelebihan seperti
kita. Laron dengan segala kekurangannya saja mengenal kata pantang menyerah,
meresapi maknanya hingga ke serat sayap-sayapnya. Maka kita sebagai manusia
harus lebih bisa memahaminya bahkan mempraktikkannya lebih dari si laron.
Apa
gunanya kita diberi akal dan pikiran untuk menuntut ilmu apabila tak ada dimanfaatkan
sebaik-baiknya. Apakah Allah menciptakan mulut kita hanya untuk membualkan
semua tentang ilmu tanpa memberikan manfaat dan menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari? Maka sungguh sayang, ilmu itu akan sia-sia dan tak akan kembali
pada kita. Bagaimana jadinya andai Rasulullah SAW hanya berdakwah tanpa memberi
contoh kepada umatnya? Apa yang akan terjadi? Islam hanya akan berakhir sebagai
salah satu teori saja, bukan agama.
Maka
ketika kita menyuarakan kebaikan pada orang lain, akan lebih baiknya kita memberikan
contoh atau mengerjakannya terlebih dahulu. Dan bila kita ingin mengubah
sesuatu, maka harus dimulai dengan diri kita sendiri. Lakukan dengan sebaik-baiknya,
dorong sampai benar-benar tak bisa lagi didorong seluruh kapasitas yang kita
miliki. Masukkanlah kata pantang menyerah, usaha keras dalam setiap perbendaharaan
kata dan hari kita. Pantang menyerah, berusaha keras dalam melakukan segala sesuatunya
adalah perintah-Nya, seperti kutipan berikut:
....إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى
يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ....
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang
mengubah apa yang pada diri mereka.” (QS Ar-Ra’ad:11)
Tuhan memang punya rencana, tapi sebagaian rencana-Nya adalah
buah dari apa yang dikerjakan umat-Nya. Hari esok kita adalah bibit yang telah kita
tanam dan pupuk selama ini, seperti apa ia akan tumbuh dan berbuah itu semua tergantung
kita. Apabila kita selalu mengusahakan yang terbaik, maka Allah pun akan membalas
niatan dan kerja keras tersebut. Sudahkah kita mengusahakan yang terbaik hari ini?
Have a blessed Monday and do best for tomorrow!

nice post :) semoga bermanfaat
ReplyDeleteAamiin, terima kasih ^_^
Delete