Pages - Menu

Friday, October 31, 2014

Globalisasi Nyata dalam Dunia Maya (Borderless) ~Jagalah Hati, Jagalah Mulut! Warning: Public Sphere!~

Seiring berkembang dan semakin majunya teknologi di Indonesia, pemanfaatan internet sebagai public sphere sekaligus penyebaran informasi melaju dengan pesat. Bahkan pengguna gadget seperti handphone dengan platform android, iOS, Windows, dan kawan-kawan pun juga meningkat. Sebagian besar masyarakat mengakses dunia maya dengan menggunakan handphone dan PC tablet yang lebih praktis daripada laptop dan komputer. Termasuk pengguna media sosial pun menjamur di negeri dengan penduduknya yang sangat padat, salah satunya adalah Facebook.
Jejaring sosial yang mulai populer di kalangan anak muda pada awal tahun 2008 di ini, telah menempatkan Indonesia pada posisi ke empat dunia sebagai pengguna akun Facebook terbanyak. Internet merupakan salah satu produk nyata dari globalisasi yang tak mengenal batas tempat dan wilayah (borderless) dan Facebook yang sangat tinggi sekali peminatnya pun telah meniadakan semua batas-batas itu. Pada mulanya, hanya sekedar batas wilayah dan tempat saja (sesuai dengan konsep globalisasi awal), namun semakin ke sini batas-batas kesopanan dan kesantunan pun hilang perlahan.


Berbagai berita dan informasi yang begitu cepat tersebar luas melalui media sosial satu ini pun semakin mendukung penduduk Facebook untuk dengan bebas mengungkapkan pendapat dan apa yang dipikirkannya (fungsi share status). Kebebasan yang selama ini terbiasa didapatkan dalam menggunakan jejaring sosial ini pun telah menciptakan suatu keajegan dalam diri seseorang dan menjadi suatu kebiasaan (melembaga dalam diri orang tersebut sehingga susah dihilangkan karena sudah tertanam dalam). Kebebasan dalam mengungkapkan apa yang dipikir, apa yang dirasa (tentunya difasilitasi oleh aplikasi ini) yang selama ini tak bisa diungkapkan di hapadan publik (di dunia nyata), bisa dengan bebas dilampiaskan oleh pengguna di halaman akun Facebook-nya (adanya fungsi Privacy dalam share status).
Pola pelampiasan dan pengungkapan gagasan yang demikian telah menyuntikkan virus-virus liberalisme yang mengampanyekan ‘kebebasan’ (freedom) atau ‘No Rules’ sehingga orang terbiasa bertindak seenaknya, semaunya tanpa mempertimbangkan etika dan estetika. Lebih parahnya lagi, virus-virus tersebut akan menggerogoti sisi agamis penggunanya melalui konsep ‘No Rules’ yang bertentangan dengan agama yang memiliki seperangkat aturan (memuat hak dan kewajiban manusia terhadap Tuhan dan sesama manusia). Belum lama ini, ada beberapa kasus yang merupakan imbas dari borderless Facebook dan berujung pada pem-bully-an di dunia maya (berakhir tragis dengan tindak lanjut berupa sanksi hukum dan sosial di dunia nyata).
Tentunya masih segar dalam ingatan kita tentang bully yang terjadi pada masa kampanye Pemilu untuk memilih Presiden 2014 yang lalu. Para pendukung kedua kubu masing-masing melancarkan berbagai serangan untuk menjatuhkan Calon Presiden satu sama lain. Berita-berita yang diluncurkan terbaca cukup sinis bahkan sudah masuk dalam taraf sarkasme yang lebih ke arah fitnah dan ghibah. Kebebasan menggunakan public tools seperti Facebook yang tak mengenal batas-batas (etika, estetika, dan moral) ini pun semakin menjadi hanya demi mendapatkan pengakuan, mengajak orang lain untuk sepemahaman dengan oknum yang melakukan.
Seolah orang-orang telah lupa bahwa apa yang ditulisnya itu tak ubahnya sama dengan apa yang diucapkan karena berisi ungkapan pendapat dan perspektif yang beranekaragam sesuai dengan apa yang ada di benak dan pikirnya. Secara fungsional, status yang ditulis dan ditebar di jejaring sosial sudah sama dengan perkataan yang biasanya dipaparkan secara oral. Mungkin selama ini, kita tak pernah mengindahkan hal-hal sepele yang demikian, “Ah ini kan akunku, jadi suka-suka aku dong, terserah mau ngapain!” Kurang lebih begitu yang kerap ada di benak kita semua. Namun perlu diingat bahwa jejaring sosial macam Facebook itu merupakan public sphere yang fungsinya sama dengan public place seperti di dunia nyata. Apa yang kita pajang, apa yang kita sebar, bisa dilihat oleh semua orang, tak peduli dari mana ia berasal, di mana ia tinggal.
Konsep borderless yang diusung Facebook kini telah menembus batas-batas norma dan etika yang selama ini membangun peradaban manusia dengan sederet aturan dan budayanya. Ada baiknya mulai saat ini, kita lebih berhati-hati lagi dalam mem-filter informasi dan mengutarakan gagasan kita di akun maya ini. Jangan sampai ia membentuk kita menjadi manusia yang tak lagi mengenal aturan, tak lagi menghargai dan menghormati orang lain, terlebih lagi menjadi insan yang suka mencerca, menyakiti hati sesama. Jagalah hati, jagalah mulut! Have a barokah Friday ever! May Allah always protect and love us!

No comments:

Post a Comment