Seiring berkembang dan semakin majunya
teknologi di Indonesia, pemanfaatan internet sebagai public sphere sekaligus penyebaran informasi melaju dengan pesat. Bahkan
pengguna gadget seperti handphone dengan platform android, iOS, Windows, dan kawan-kawan pun juga meningkat.
Sebagian besar masyarakat mengakses dunia maya dengan menggunakan handphone dan PC tablet yang lebih praktis
daripada laptop dan komputer. Termasuk pengguna media sosial pun menjamur di negeri
dengan penduduknya yang sangat padat, salah satunya adalah Facebook.
Jejaring sosial yang mulai populer di kalangan
anak muda pada awal tahun 2008 di ini, telah menempatkan Indonesia pada posisi ke
empat dunia sebagai pengguna akun Facebook
terbanyak. Internet merupakan salah satu produk nyata dari globalisasi yang tak
mengenal batas tempat dan wilayah (borderless)
dan Facebook yang sangat tinggi sekali
peminatnya pun telah meniadakan semua batas-batas itu. Pada mulanya, hanya sekedar
batas wilayah dan tempat saja (sesuai dengan konsep globalisasi awal), namun semakin
ke sini batas-batas kesopanan dan kesantunan pun hilang perlahan.
Berbagai berita dan informasi yang begitu
cepat tersebar luas melalui media sosial satu ini pun semakin mendukung penduduk
Facebook untuk dengan bebas mengungkapkan
pendapat dan apa yang dipikirkannya (fungsi share
status). Kebebasan yang selama ini terbiasa didapatkan dalam menggunakan jejaring
sosial ini pun telah menciptakan suatu keajegan dalam diri seseorang dan menjadi
suatu kebiasaan (melembaga dalam diri orang tersebut sehingga susah dihilangkan
karena sudah tertanam dalam). Kebebasan dalam mengungkapkan apa yang dipikir, apa
yang dirasa (tentunya difasilitasi oleh aplikasi ini) yang selama ini tak bisa diungkapkan
di hapadan publik (di dunia nyata), bisa dengan bebas dilampiaskan oleh pengguna
di halaman akun Facebook-nya (adanya fungsi
Privacy dalam share status).
Pola pelampiasan dan pengungkapan gagasan
yang demikian telah menyuntikkan virus-virus liberalisme yang mengampanyekan ‘kebebasan’
(freedom) atau ‘No Rules’ sehingga orang terbiasa bertindak seenaknya, semaunya tanpa
mempertimbangkan etika dan estetika. Lebih parahnya lagi, virus-virus tersebut akan
menggerogoti sisi agamis penggunanya melalui konsep ‘No Rules’ yang bertentangan dengan agama yang memiliki seperangkat aturan
(memuat hak dan kewajiban manusia terhadap Tuhan dan sesama manusia). Belum lama
ini, ada beberapa kasus yang merupakan imbas dari borderless Facebook dan berujung pada pem-bully-an di dunia maya (berakhir tragis dengan tindak lanjut berupa
sanksi hukum dan sosial di dunia nyata).
Tentunya
masih segar dalam ingatan kita tentang bully
yang terjadi pada masa kampanye Pemilu untuk memilih Presiden 2014 yang lalu. Para
pendukung kedua kubu masing-masing melancarkan berbagai serangan untuk menjatuhkan
Calon Presiden satu sama lain. Berita-berita yang diluncurkan terbaca cukup sinis
bahkan sudah masuk dalam taraf sarkasme yang lebih ke arah fitnah dan ghibah. Kebebasan
menggunakan public tools seperti Facebook yang tak mengenal batas-batas (etika,
estetika, dan moral) ini pun semakin menjadi hanya demi mendapatkan pengakuan, mengajak
orang lain untuk sepemahaman dengan oknum yang melakukan.
Seolah
orang-orang telah lupa bahwa apa yang ditulisnya itu tak ubahnya sama dengan apa
yang diucapkan karena berisi ungkapan pendapat dan perspektif yang beranekaragam
sesuai dengan apa yang ada di benak dan pikirnya. Secara fungsional, status yang
ditulis dan ditebar di jejaring sosial sudah sama dengan perkataan yang biasanya
dipaparkan secara oral. Mungkin selama ini, kita tak pernah mengindahkan hal-hal
sepele yang demikian, “Ah ini kan akunku, jadi suka-suka aku dong, terserah mau
ngapain!” Kurang lebih begitu yang kerap ada di benak kita semua. Namun perlu diingat
bahwa jejaring sosial macam Facebook itu
merupakan public sphere yang fungsinya
sama dengan public place seperti di dunia
nyata. Apa yang kita pajang, apa yang kita sebar, bisa dilihat oleh semua orang,
tak peduli dari mana ia berasal, di mana ia tinggal.
Konsep borderless yang diusung Facebook kini telah menembus batas-batas norma dan etika yang selama ini membangun peradaban manusia dengan sederet aturan dan budayanya. Ada baiknya mulai saat ini, kita lebih berhati-hati lagi dalam mem-filter informasi dan mengutarakan gagasan kita di akun maya ini. Jangan sampai ia membentuk kita menjadi manusia yang tak lagi mengenal aturan, tak lagi menghargai dan menghormati orang lain, terlebih lagi menjadi insan yang suka mencerca, menyakiti hati sesama. Jagalah hati, jagalah mulut! Have a barokah Friday ever! May Allah always protect and love us!
No comments:
Post a Comment