Pages - Menu

Monday, October 13, 2014

Sebilah Kisah dari Perantauan ~Part 2~ (Saat Waktu Menuntut Ikhlas)


Bulir pasir yang berjatuhan tiada henti terus tertumpuk di dasar tabung, seperti masa-masa yang telah dilalui terus mengendap dalam ingatan. Terkadang kerikil-kerikil kasar dan bongkahan batu pun memaksa untuk turut serta. Ada suatu masa di mana setiap insan merangkai setiap untaian kata untuk menulis kisahnya, namun ketika kisah itu mulai ditulis tak sekali dua kali ia harus mengganti alurnya. Tak terelakkan beberapa tokoh dan ide ceritanya pun berganti, bergeser, jauh dari harapan dan rencananya semula. Ya, itulah hidup.
Alhasil, deraan keluh kesah pun tak berhenti dicoretkan dalam beberapa bagian, mungkin beberapa dialog. Pada beberapa bagian itu, hidup dan waktu sebenarnya tidak menuntut banyak, hanya satu kata, keikhlasan. Ikhlas untuk menerima, ikhlas untuk merelakan, ikhlas untuk berjuang kembali, dan masih banyak ikhlas yang lainnya. Aku masih belajar, ya belajar untuk ikhlas dari banyak pertemuan dengan insan-insan luar biasa yang banyak menyebutnya sahabat. Jalinan di antara kami sudah terjalin lebih dari satu dekade, lebih tepatnya 12 tahun (sedari SMP, tahun 2002). Saking dekatnya, kami sampai memiliki julukan atau panggilan sayang yang ditujukan satu sama lain, sebut saja mereka Oneng, Si Mbok, dan Esteh.
Oneng dan Si Mbok sudah mendahuluiku dan Esteh dalam membangun bidak rumah tangga, sudah sekitar 2 sampai 3 tahun mungkin. Akan tetapi, Allah belum memberikan mereka amanah baru sebagai seorang ibu sekaligus pendidik dunia akhirat. Kisah perjalanan mereka semua benar-benar penuh kejutan dan intrik yang bagi sebagian orang mungkin sulit untuk tidak berceramah panjang lebar mengeluhkan semua yang dialaminya.
Oneng sudah 3 tahun ini menjalani kehidupannya sebagai seorang istri muda sekaligus status mahasiswi yang masih menempel erat (sedang berusaha untuk melepasnya), begitu juga dengan suaminya. Di usia yang masih belia, awal kepala dua, mereka sudah berkomitmen dan membulatkan niat untuk menikah karena Allah. Niatan yang baik ini pun mengalirkan hal-hal baik lainnya. Oneng dan suami pada awalnya meminjam uang kedua orang tua mereka untuk memulai usaha membuka laundry dan menyewa sebuah rumah di perumahan dekat dengan kampung halaman Oneng. Alhamdulillah dalam kurun waktu 1 tahun, Oneng bisa mengembalikan uang yang dipinjamnya.
Bisnis tempat cuci baju kiloannya ini hanya bertahan sebentar, tahun kedua berjalan entah karena suatu alasan, Oneng harus menutup usahanya yang sudah berhasil membuka satu cabang lain di daerah Banguntapan, Bantul. Kemudian Oneng pun lebih memilih fokus untuk menjadi guru les privat sesuai dengan background studinya, Pendidikan Kimia. Sedangkan suaminya akhirnya bisa kesampaian untuk menekuni passion-nya di bidang otomotif dan bisnis. Ia membuka bisnis berjualan knalpot dan aksesoris motor dengan modal yang selama ini dikumpulkan. Tak berselang lama, Oneng dan suami pun pindah ke sebuah perumahan baru dan membeli rumah dengan kredit dalam jangka waktu 3 tahun. Bahkan rizki yang terus mengalir ini bisa membuat mereka untuk mengkredit mobil.
Kebahagiaan dan rizki yang terus mengalir ini pun memuncak dengan dikaruniainya Oneng sebuah janin pada Februari lalu. Akhirnya ikhtiar pasangan ini semenjak Oktober tahun  silam pun berbuah manis, Allah pun mengabulkan doa mereka. Namun keduanya pun tak menyangka kalau amanah ini begitu berat. Bulan pertama kesabaran Oneng pun diuji, entah karena suatu hal flek-flek mulai muncul menandakan bahwa ia harus istirahat total demi calon bayinya. Akhirnya bulan pun berganti, baru genap dua bulan usia kandungannya, Oneng terkesiap melihat flek yang keluar lebih banyak dari biasanya, dan siapa yang menyana bahwa ternyata peristiwa ini berujung pada pendarahan.
Masa-masa awal kehamilannya, Oneng selalu gelisah, ketakutan akan kehilangan calon anaknya yang selama ini selalu didambakan. Tapi semakin mendekati titik balik takdir, perlahan ia pun mulai melepas dan mempersiapkan hatinya untuk merelakan anaknya. Kombinasi antara pasrah, ikhlas, tawakal, dan husnudzon pada Sang Pencipta pun semakin kuat merangkul setiap detik yang berlalu. Sebelum ruh sempat dihembuskan dalam rahimnya, Allah terlebih dahulu menyabdakan titahNya. Dan ketika calon harapannya itu diambil, Oneng justru tersenyum lepas, menyambutku dengan hangat di pintu kamarnya.
Baru kali ini aku melihat ada sosok ibu yang bisa tersenyum ikhlas merelakan bagian dari tubuhnya pergi untuk selamanya. Aku pun hanya bisa membalas senyumnya itu dengan penuh tanya bercampur lega. Ketika aku bertanya menanyakan keadaan dan kronologinya, ia menjawab sambil merekahkan senyum, “Ya mau gimana lagi Lin, udah kehendak Yang Di Atas. Ya udah aku ikhlasin aja, mungkin ini yang terbaik buat kami. Nanti ketika sudah waktunya, juga pasti insya Allah akan diberi amanah lagi.”
Aku pun langsung menyambung, “Ngomong-ngomong soal amanah, gimana tuh kuliahmu? Itu kan juga amanah dari orang tua, lebih dulu pula.”
Gelak tawa darinya pun semakin menjadi, entah itu sebagai excuse atau malah menertawakan dirinya sendiri, “Iya nih Lin, doanya ya. Ini kemarin nggak bisa ngapa-ngapain karena harus bedrest. Insya Allah setelah ini deh, adikku juga bentar lagi malah mau wisuda.”
“Nah loh, malah duluan adiknya, gimana sih?” tanyaku balik sambil nyengir mengejek.
“Iya, iya. Tapi hidup itu pilihan Lin, dan pilihanku adalah menikah, berkeluarga, dan mengajar. Kemarin-kemarin yang satu itu belum masuk prioritas sih.”
Aku tertawa sambil terus melirik ke arahnya, syukurlah kalau Oneng baik-baik saja. Baguslah kalau dia berniat memasukkan kembali skripsi ke dalam prioritasnya. “Semangat ya Neng! Bismillah aja,” balasku menyemangatinya sambil menepuk lengan kanannya. Teringat kemarin ini ketika kami berempat mengadakan reuni dadakan dan kecil-kecilan di rumah Si Mbok, Oneng pun sempat menambahkan quote-nya:
Semuanya itu pilihan kok, sekarang tergantung kamu mau milih yang mana. Tapi semuanya itu harus dijalani termasuk semua konsekuensinya.”

Tak ketinggalan aku pun menimpali, “Apa pun pilihan kita, kita harus bertanggung jawab untuk menjalaninya dan menyelesaikannya sampai akhir, tak terkecuali konsekuensi-konsekuensinya.”

No comments:

Post a Comment