Bulir pasir
yang berjatuhan tiada henti terus tertumpuk di dasar tabung, seperti masa-masa
yang telah dilalui terus mengendap dalam ingatan. Terkadang kerikil-kerikil
kasar dan bongkahan batu pun memaksa untuk turut serta. Ada suatu masa di mana
setiap insan merangkai setiap untaian kata untuk menulis kisahnya, namun ketika
kisah itu mulai ditulis tak sekali dua kali ia harus mengganti alurnya. Tak
terelakkan beberapa tokoh dan ide ceritanya pun berganti, bergeser, jauh dari
harapan dan rencananya semula. Ya, itulah hidup.
Alhasil,
deraan keluh kesah pun tak berhenti dicoretkan dalam beberapa bagian, mungkin
beberapa dialog. Pada beberapa bagian itu, hidup dan waktu sebenarnya tidak
menuntut banyak, hanya satu kata, keikhlasan. Ikhlas untuk menerima, ikhlas
untuk merelakan, ikhlas untuk berjuang kembali, dan masih banyak ikhlas yang
lainnya. Aku masih belajar, ya belajar untuk ikhlas dari banyak pertemuan
dengan insan-insan luar biasa yang banyak menyebutnya sahabat. Jalinan di
antara kami sudah terjalin lebih dari satu dekade, lebih tepatnya 12 tahun
(sedari SMP, tahun 2002). Saking dekatnya, kami sampai memiliki julukan atau
panggilan sayang yang ditujukan satu sama lain, sebut saja mereka Oneng, Si
Mbok, dan Esteh.
Oneng dan Si
Mbok sudah mendahuluiku dan Esteh dalam membangun bidak rumah tangga, sudah
sekitar 2 sampai 3 tahun mungkin. Akan tetapi, Allah belum memberikan mereka
amanah baru sebagai seorang ibu sekaligus pendidik dunia akhirat. Kisah
perjalanan mereka semua benar-benar penuh kejutan dan intrik yang bagi sebagian
orang mungkin sulit untuk tidak berceramah panjang lebar mengeluhkan semua yang
dialaminya.
Oneng sudah 3
tahun ini menjalani kehidupannya sebagai seorang istri muda sekaligus status
mahasiswi yang masih menempel erat (sedang berusaha untuk melepasnya), begitu
juga dengan suaminya. Di usia yang masih belia, awal kepala dua, mereka sudah
berkomitmen dan membulatkan niat untuk menikah karena Allah. Niatan yang baik
ini pun mengalirkan hal-hal baik lainnya. Oneng dan suami pada awalnya meminjam
uang kedua orang tua mereka untuk memulai usaha membuka laundry dan menyewa sebuah rumah di perumahan dekat dengan kampung
halaman Oneng. Alhamdulillah dalam kurun waktu 1 tahun, Oneng bisa
mengembalikan uang yang dipinjamnya.
Bisnis tempat
cuci baju kiloannya ini hanya bertahan sebentar, tahun kedua berjalan entah
karena suatu alasan, Oneng harus menutup usahanya yang sudah berhasil membuka
satu cabang lain di daerah Banguntapan, Bantul. Kemudian Oneng pun lebih
memilih fokus untuk menjadi guru les privat sesuai dengan background studinya, Pendidikan Kimia. Sedangkan suaminya akhirnya
bisa kesampaian untuk menekuni passion-nya
di bidang otomotif dan bisnis. Ia membuka bisnis berjualan knalpot dan
aksesoris motor dengan modal yang selama ini dikumpulkan. Tak berselang lama,
Oneng dan suami pun pindah ke sebuah perumahan baru dan membeli rumah dengan
kredit dalam jangka waktu 3 tahun. Bahkan rizki yang terus mengalir ini bisa
membuat mereka untuk mengkredit mobil.
Kebahagiaan
dan rizki yang terus mengalir ini pun memuncak dengan dikaruniainya Oneng
sebuah janin pada Februari lalu. Akhirnya ikhtiar pasangan ini semenjak Oktober
tahun silam pun berbuah manis, Allah pun
mengabulkan doa mereka. Namun keduanya pun tak menyangka kalau amanah ini
begitu berat. Bulan pertama kesabaran Oneng pun diuji, entah karena suatu hal
flek-flek mulai muncul menandakan bahwa ia harus istirahat total demi calon
bayinya. Akhirnya bulan pun berganti, baru genap dua bulan usia kandungannya,
Oneng terkesiap melihat flek yang keluar lebih banyak dari biasanya, dan siapa
yang menyana bahwa ternyata peristiwa ini berujung pada pendarahan.
Masa-masa
awal kehamilannya, Oneng selalu gelisah, ketakutan akan kehilangan calon
anaknya yang selama ini selalu didambakan. Tapi semakin mendekati titik balik
takdir, perlahan ia pun mulai melepas dan mempersiapkan hatinya untuk merelakan
anaknya. Kombinasi antara pasrah, ikhlas, tawakal, dan husnudzon pada Sang
Pencipta pun semakin kuat merangkul setiap detik yang berlalu. Sebelum ruh
sempat dihembuskan dalam rahimnya, Allah terlebih dahulu menyabdakan titahNya.
Dan ketika calon harapannya itu diambil, Oneng justru tersenyum lepas,
menyambutku dengan hangat di pintu kamarnya.
Baru kali ini
aku melihat ada sosok ibu yang bisa tersenyum ikhlas merelakan bagian dari
tubuhnya pergi untuk selamanya. Aku pun hanya bisa membalas senyumnya itu
dengan penuh tanya bercampur lega. Ketika aku bertanya menanyakan keadaan dan
kronologinya, ia menjawab sambil merekahkan senyum, “Ya mau gimana lagi Lin,
udah kehendak Yang Di Atas. Ya udah aku ikhlasin aja, mungkin ini yang terbaik
buat kami. Nanti ketika sudah waktunya, juga pasti insya Allah akan diberi
amanah lagi.”
Aku pun
langsung menyambung, “Ngomong-ngomong soal amanah, gimana tuh kuliahmu? Itu kan
juga amanah dari orang tua, lebih dulu pula.”
Gelak tawa darinya
pun semakin menjadi, entah itu sebagai excuse
atau malah menertawakan dirinya sendiri, “Iya nih Lin, doanya ya. Ini kemarin
nggak bisa ngapa-ngapain karena harus bedrest.
Insya Allah setelah ini deh, adikku juga bentar lagi malah mau wisuda.”
“Nah loh, malah
duluan adiknya, gimana sih?” tanyaku balik sambil nyengir mengejek.
“Iya, iya. Tapi
hidup itu pilihan Lin, dan pilihanku adalah menikah, berkeluarga, dan mengajar.
Kemarin-kemarin yang satu itu belum masuk prioritas sih.”
Aku tertawa sambil
terus melirik ke arahnya, syukurlah kalau Oneng baik-baik saja. Baguslah kalau dia
berniat memasukkan kembali skripsi ke dalam prioritasnya. “Semangat ya Neng! Bismillah
aja,” balasku menyemangatinya sambil menepuk lengan kanannya. Teringat kemarin ini
ketika kami berempat mengadakan reuni dadakan dan kecil-kecilan di rumah Si Mbok,
Oneng pun sempat menambahkan quote-nya:
“Semuanya itu pilihan kok, sekarang tergantung
kamu mau milih yang mana. Tapi semuanya itu harus dijalani termasuk semua konsekuensinya.”
Tak ketinggalan
aku pun menimpali, “Apa pun pilihan kita, kita harus bertanggung jawab untuk menjalaninya
dan menyelesaikannya sampai akhir, tak terkecuali konsekuensi-konsekuensinya.”

No comments:
Post a Comment