Pages - Menu

Monday, November 17, 2014

Tamparan dari Seekor Laron

Apa yang kau ketahui tentangnya? Tak ada. Aku hanya menjumpainya selama musim penghujan. Aku tak tahu menahu tentang dirinya, barang sehelai sel pun. Tapi akhirnya aku bertemu dengannya setelah tangisan langit mengguyur kota ini selama beberapa hari. Beberapa jam yang lalu saat aku menunggu di kursi tunggu lorong sebuah rumah sakit, mereka datang berhamburan. Satu per satu dengan riangnya terbang ke sana kemari. “Ah akhirnya aku bisa keluar di sela-sela jeda hujan malam ini,” kurang lebih itu yang mereka rasa. Laron, hewan musiman yang hanya berkelana saat hujan datang dan selalu tertarik pada cahaya.

Aku melihat mereka mengepakkan sayap-sayap tipisnya berwarna kecoklatan dan mengitari lorong di bawah iluminasi lampu-lampu di atasku. Aku hanya tersenyum, lalu termenung ketika melihat sebagian dari mereka terbang semakin rendah, merayap di lantai dan akhirnya kehilangan sayap-sayapnya. Kutengok ke sebelah kanan, sebagian dari mereka ada yang terinjak dan menjadi bangkai. Aku terdiam, baru selepas maghrib mereka menikmati kebebasan untuk bertualang dan menjelang isya’ mereka sudah menjemput ajal. Aku merenung. “Untuk apa mereka hidup? Nyawa mereka tak ada hitungan hari, bahkan hanya beberapa menit.”
Dan aku teringat pada salah satu firman-Nya dalam QS Shad ayat 27:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”
Allah menciptakan segala sesuatu karena ada manfaatnya. Kita belum menyadarinya saja karena keterbatasan yang kita miliki. Begitu juga diriku yang baru saja mengetahuinya. Banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari kehidupan seekor laron yang sangat singkat.
Ia tetap mengepakkan sayap walaupun tahu ia akan jatuh
Ia tetap berjuang untuk terbang meskipun tahu sayap-sayapnya akan runtuh
Ia tetap pergi bertualang padahal ia tahu tak akan kembali ke rumah keesokan hari
Ia pejuang yang tak pernah takut pada mati, hanya takut pada Sang Illahi


Laron yang sudah tahu bahwa waktu hidupnya di dunia sangat singkat tetap berjuang. Mereka tetap terbang dan keluar bertualang, walaupun tahu di luar sana nyawanya akan dipenggal. Bagaimana dengan kita? Lama singkatnya hidup manusia hanyalah rahasia Allah semata. Namun apakah kita lebih baik dari mereka?
Melesat seketika dalam benakku bahwa aku tidak lebih baik dari mereka. Belum pernah aku berjuang seperti mereka sampai terkulai, sampai detik akhir nafas berhembus. Kita yang diberi waktu panjang untuk menikmati gemerlap dunia seharusnya bisa berjuang lebih daripada mereka. Manusia yang diciptakan dalam kondisi sebaik-baiknya, lengkap dengan akal dan pikiran, harusnya mampu berbuat lebih. Mampu berjuang lebih dari seekor laron yang tak memiliki kelebihan seperti kita. Laron dengan segala kekurangannya saja mengenal kata pantang menyerah, meresapi maknanya hingga ke serat sayap-sayapnya. Maka kita sebagai manusia harus lebih bisa memahaminya bahkan mempraktikkannya lebih dari si laron.
Apa gunanya kita diberi akal dan pikiran untuk menuntut ilmu apabila tak ada dimanfaatkan sebaik-baiknya. Apakah Allah menciptakan mulut kita hanya untuk membualkan semua tentang ilmu tanpa memberikan manfaat dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Maka sungguh sayang, ilmu itu akan sia-sia dan tak akan kembali pada kita. Bagaimana jadinya andai Rasulullah SAW hanya berdakwah tanpa memberi contoh kepada umatnya? Apa yang akan terjadi? Islam hanya akan berakhir sebagai salah satu teori saja, bukan agama.
Maka ketika kita menyuarakan kebaikan pada orang lain, akan lebih baiknya kita memberikan contoh atau mengerjakannya terlebih dahulu. Dan bila kita ingin mengubah sesuatu, maka harus dimulai dengan diri kita sendiri. Lakukan dengan sebaik-baiknya, dorong sampai benar-benar tak bisa lagi didorong seluruh kapasitas yang kita miliki. Masukkanlah kata pantang menyerah, usaha keras dalam setiap perbendaharaan kata dan hari kita. Pantang menyerah, berusaha keras dalam melakukan segala sesuatunya adalah perintah-Nya, seperti kutipan berikut:
 ....إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ .... 
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang pada diri mereka.” (QS Ar-Ra’ad:11)

Tuhan memang punya rencana, tapi sebagaian rencana-Nya adalah buah dari apa yang dikerjakan umat-Nya. Hari esok kita adalah bibit yang telah kita tanam dan pupuk selama ini, seperti apa ia akan tumbuh dan berbuah itu semua tergantung kita. Apabila kita selalu mengusahakan yang terbaik, maka Allah pun akan membalas niatan dan kerja keras tersebut. Sudahkah kita mengusahakan yang terbaik hari ini? Have a blessed Monday and do best for tomorrow!

Monday, November 3, 2014

Lentera yang Tak Pernah Padam ~Cahaya Pertama~

Saat manusia tak tahu lagi harus mengambil keputusan, tak tahu lagi jalan untuk melangkah, hanya ada kegelapan yang menyelimuti setiap jalan, tak ada lentera satu pun untuk mencerahkan, di titik inilah manusia seharusnya mengembalikan semua urusan pada Tuhannya. Hanya Dia-lah pemilik cahaya yang tak pernah padam, cahaya yang senantiasa menyinari hati manusia, cahaya yang selalu menjaga setiap sudut dan sisi perjalanan umatNya. Sekilas ingatan terunik yang belum pernah kualami sebelumnya tiba-tiba melintas kembali, kala sahabat-sahabat pena seperjuanganku sedang menghadapi dilema yang sama.
Sudah lebih dari 2 tahun saat semuanya dimulai, pertengahan 2012 aku menghilang mendadak dari peredaran kampus, sibuk sejenak untuk mengejar mimpi pertamaku. Tanpa pemberitahuan apa pun pada pembimbingku, aku absen tanpa sepengetahuan beliau selama 6 bulan lebih sampai awal 2013. Setelah aku puas dengan pelarian sejenakku dari tugas itu, aku kembali menemui beliau untuk mendiskusikan lebih lanjut tugas akhir yang menguji seluruh kapasitasku sebagai mahasiswa. Benakku berkecamuk, membayangkan berbagai reaksi dan jawaban dari beliau karena aku dengan seenaknya hilang tanpa kabar. Ketika niat sudah bulat, hati sudah mantap, dengan hasil revisi di tangan, hal yang tak terduga, beliau pergi ke Papua untuk sebulan terhitung dari bulan Januari.
Sesaat aku merasa, “Wuah! Ini nih akibatnya menunda-nunda, nggak manfaatin waktu dengan baik!” Aku hanya bisa menghela nafas, pulang dengan langkah gontai meninggalkan Gedung MSK UGM yang terletak di sebelah selatan Oase Dakwah Kampus, Masjid Kampus UGM itu. Sesuai yang dijanjikan, aku kembali lagi menemui beliau pada bulan berikutnya. Tanpa rasa bersalah dan hanya dengan wajah tersenyum polos, aku melakukan bimbingan intensif sampai pada akhirnya beliau memberikan ACC untuk seminar proposal. “Akhirnya setelah sekian lama!” girang hatiku berteriak keluar ruangan Pak Agus di lantai 2, di sebelah sisi kanan tangga utama.
Dalam perjalanan pulang itu aku merenung dan bertanya-tanya pada diriku sendiri, mengingat kembali dan merasakan perjuangan selama 8 bulan ini. Aku berusaha mencari-cari kesalahan diri kenapa sampai sesulit ini mendapatkan ijin resmi dari dosen pembimbing untuk maju seminar proposal. Kebiasaan yang tak baik untuk dicontoh sebenarnya, kerap aku merenung ketika sedang mengendarai motor menuju rumah. Dan aku melakukannya lagi, untuk kesekian kali (sudah tak terhitung). “Ah!” kata itu keluar saja dari mulutku ketika di lampu merah Jembatan Janti. Selama ini aku menjalani dengan setengah hati, selalu mencari-cari kesalahan orang lain hanya karena skripsi ini tak kunjung selesai dan mendapat kepastian. Tak hanya itu, ya, aku selalu mengeluh. Mengeluhkan segala sesuatu yang berjalan tak sesuai dengan apa yang kuinginkan, dan selalu mengabaikan tunas bunga syukur dari dasar kalbu.
Sejak saat itu, aku selalu berusaha mengerjakannya dengan ringan hati,  penuh niat untuk memberikan sekeping kebahagiaan bagi kedua orang tuaku. Tanpa erangan keluh kesah sedikit pun, tanpa kekesalan tertumpah di wajah dan dada ini, aku terus melanjutkannya dan berhasil melalui tahap pertama yang mendebarkan itu, ya, Seminar Proposal (bisa dibilang Pendadaran Mini). Entah ada bisikan apa yang merayuku, aku semakin memperbaiki kinerja dan diri, sehina apa pun diri ini, aku ingin semakin dekat denganNya.
Dan saat tiba pada hari Seminar Proposal, awal bulan Maret, 3 dosen (2 penguji dan  1 pembimbing), waktu 10 menit untuk presentasi, jantungku senam tak karuan. Tapi ya sudahlah, aku pasrah, sudah berusaha maksimal, sudah berdoa juga yang jelas agar diberi kemudahan dan kelancaran, tanpa hambatan suatu apa pun. Alhamdulillah, saat presentasi berjalan dengan lancar, bahkan begitu pula saat para penguji melemparkan pertanyaan. Tak ada ketegangan sedikit pun, justru penuh canda dan tawa dari ketiga dosen yang super sibuk itu. “Ya Allah, inikah kekuatan doa? Inikah cahaya yang Kau kirimkan pada lenteraku?” Bahkan sama sekali tak ada tekanan (walaupun banyak ditonton adik-adik angkatan), baik dari penonton maupun para dosen yang salah satunya terkenal killer (lebih tepatnya nggak mau disalahkan).
Banyak lelucon, sungguh (ya walaupun sedikit mengejek), “Anda ini kenapa sih suka yang besar-besar? Ini judul Anda terlalu luas,” ujar dosen killer itu. Lalu Pak Agus pun malah mem-follow-nya dengan mengatakan, “Apa itu maksudnya Pak?” sambil tertawa, menyipitkan mata melihatku yang melongo. Serempak mereka semua tertawa, tak luput kawan seperjuangan seminar di sampingku yang sedikit pucat pasi menanti gilirannya untuk dikritisi. Sempat juga di awal, Pak Agus berceletuk, “Saya aja bingung, Anda itu mahasiswa saya apa bukan.” (efek gara-gara ngilang selama setengah tahun)
Seminar Proposal yang berisi gelak tawa, baru pertama kali ini aku menyaksikannya. Lalu tiba giliran temanku (adik angkatan sebenarnya), wah kaget bukan kepalang aku jadinya. Dia dibantai habis-habisan sampai tak bisa berkata-kata dan memberikan jawaban yang memuaskan pada ketiga dosen itu. Aku juga turut terdiam, di sampingnya aku berusaha memberikan support, saat mata kami bertemu aku mengedipkan sambil menganggukkan kepalaku sebagai bentuk dukungan. Akhirnya setelah 15 menit mendebarkan itu pun berlalu, ia nampak lelah, dan aku hanya menepuk pundaknya, “Ayo semangat revisi!”
Seiring waktu berjalan, aku pun segera merevisi semua bagian proposal agar bisa segera mendapatkan ACC lapangan dari Pak Agus. Akhir bulan April itu menjadi penentuan yang mendebarkan, kala itu aku sangat bergantung sekali pada doa, doa, dan doa. Akhir bulan, sekitar tanggal 26 April aku membawa hasil revisi dan menyuguhkannya pada beliau, ya, dengan sedikit presentasi tentunya (maklum mahasiswa bimbingannya banyak). Akhirnya beliau membubuhkan tanda tangan, nama terang dan tulisan ACC besar di sampul depan proposalku. Beliau kemudian memberikan sedikit arahan teknis untuk mengurus perijinan ke lapangan, sembari tersenyum ramah (manis banget senyumnya Pak! Ouch!), “Untung kamu datang ke saya hari ini (hari Jum’at), mulai minggu depan saya mau keluar kota selama sebulan.”
“Eh, iya kah Pak?” balasku balik dengan spontan (ups).
“Saya mau ke Kalimantan 2 minggu, setelah itu ke Papua,” jawab beliau sambil duduk kembali ke kursi kebesarannya (sudah dilantik jadi Ketua MSK/Magister Studi Kebijakan).
Aku sempat mematung sesaat, “Ya Rabb, apa ini? Timing-nya terlalu pas!” Semakin aku mendekatiNya, semakin aku merasakan pendaran cahayaNya terus bertambah, memberikan kehidupan pada setiap lenteraku, agar aku tak terjatuh, tak terluka, tak tersesat saat menyusuri jalan. Kuperbanyak doa, dzikir dan sholat malam pun tak pernah hilang dari rutinitasku kala itu. Berbekal dengan niat baik untuk mengemban amanah dari orang tua (sebagai anak sekligus mahasiswa), aku pun akhirnya terjun ke lapangan untuk mencari informasi dan mengumpulkan data (terjun motor ke Imogiri dan Bantul).
Selama seminggu, masa untuk mengurus perijinan, semua berjalan sangat mulus, tak ada kendala sama sekali. Berbeda dengan yang kudengar dari cerita sobat-sobat perjuangan sebagai mahasiswa akhir yang mengeluhkan perihal perijinan. Bahkan saat aku berurusan dengan pihak-pihak di tingkat kecamatan dan desa, instansi-instansi dan perangkat-perangkatnya sangat kooperatif, tak mempersulitku barang sedikit pun. Sekali lagi aku meneteskan peluh mata kala bersujud siang itu di bumi Imogiri, “Ya Allah, betapa besar karuniaMu, sungguh tak terhingga rahmatMu. Terima kasih ya Allah, I’m nothing without You.” Pengurus di UPK (Unit Pengelola Kegiatan untuk PNPM Mandiri) Imogiri tak hanya kooperatif, tapi mereka juga memberikan infromasi terkait informan lain yang sama sekali tak kuminta (impact dari teknik snowball sampling). Perjalananku menelusuri pucuk-pucuk Imogiri pun berakhir dengan baik dan memuaskan.
Selama Pak Agus pergi, aku pun sekuat tenaga untuk mengolah data, menganalisisnya dan menatanya rapi ke dalam tulisan. Butuh perjuangannya yang tak pernah terkira, masa-masa itu (setelah Oprek FLP 2013), aku berusaha agar bisa mengejar wisuda pada bulan Agustus. Tidur 2 jam sehari sudah menjadi hal lazim bagiku selama sebulan (pertengahan Mei sampai Juni) itu. Atas ijinNya, selesai juga skripsi setebal 147 halaman itu (jumlah halaman awal sebelum sidang dan direvisi). Dua minggu terakhir bulan Juni, aku terus mengejar Pak Agus agar beliau bersedia meluangkan waktu untuk mengoreksi tumpukan kertas pengantar menuju gerbang kelulusan.
Begitu beliau mencoret-coretnya, segera kubawa pulang, kuperbaiki, lalu hari berikutnya aku datang lagi, dan begitu seterusnya, selama seminggu itu aku menghantui beliau. Akhirnya, hari Jum’at, 28 Juni 2013, beliau meng-acc berkas skripsiku, “Ya sudahlah, ini saya ACC. Segera ke jurusan ya, untuk daftar ujian.” Girang tak bisa lepas dari wajah penatku, (mata udah kayak mata panda) kuterima berkas itu dari tangan beliau sambil terus tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Aku permisi dan keluar dari ruangan Ketua MSK di lantai 1 paling ujung selatan itu, “Bapaknya udah muak sama aku nih, semingguan ini aku ngejar-ngejar terus. Tapi ya, alhamdulillah, akhirnya.”
Terekam jelas dalam memoriku, saat aku tak beranjak sedikit pun dari kamar hanya untuk menuntaskan segepok karya ilimiah, ibuku terus mengawasiku dari kejauhan, terkadang beliau hanya iseng menengokku. Melihat sosokku yang begitu serius di depan meja kerja (padahal hanya laptop di atas meja lipat), beliau hanya berujar, “Jangan terus-terusan di depan laptop, jangan sampai kecapekan.” Aku tahu itu adalah wujud sayang, wujud kasihnya padaku, sebisa mungkin beliau tak mengangguku, membiarkanku dengan segala kesibukannku, bahkan beliau tak mengusikku untuk membantu membereskan urusan rumah.
Suatu siang, seusai beliau selesai ibadah dhuhur, barang sebentar aku mengobrol dengan beliau. Lalu terpeleset keluar dari mulutku, "Makanya Bu, doain ya, biar cepet selesai, biar cepet lulus."Beliau pun tersenyum sambil berbalik dengan mukena masih menempel di tubuhnya, “Orang tua selalu mendoakan anaknya di setiap sholatnya.” Berdesir air mata mengalir dari palung hatiku, aku memaksa untuk tersenyum dan mengangguk, berusaha menahan air mata itu tak meluap keluar dari mataku.
~to be continued~