Pages - Menu

Monday, November 17, 2014

Tamparan dari Seekor Laron

Apa yang kau ketahui tentangnya? Tak ada. Aku hanya menjumpainya selama musim penghujan. Aku tak tahu menahu tentang dirinya, barang sehelai sel pun. Tapi akhirnya aku bertemu dengannya setelah tangisan langit mengguyur kota ini selama beberapa hari. Beberapa jam yang lalu saat aku menunggu di kursi tunggu lorong sebuah rumah sakit, mereka datang berhamburan. Satu per satu dengan riangnya terbang ke sana kemari. “Ah akhirnya aku bisa keluar di sela-sela jeda hujan malam ini,” kurang lebih itu yang mereka rasa. Laron, hewan musiman yang hanya berkelana saat hujan datang dan selalu tertarik pada cahaya.

Aku melihat mereka mengepakkan sayap-sayap tipisnya berwarna kecoklatan dan mengitari lorong di bawah iluminasi lampu-lampu di atasku. Aku hanya tersenyum, lalu termenung ketika melihat sebagian dari mereka terbang semakin rendah, merayap di lantai dan akhirnya kehilangan sayap-sayapnya. Kutengok ke sebelah kanan, sebagian dari mereka ada yang terinjak dan menjadi bangkai. Aku terdiam, baru selepas maghrib mereka menikmati kebebasan untuk bertualang dan menjelang isya’ mereka sudah menjemput ajal. Aku merenung. “Untuk apa mereka hidup? Nyawa mereka tak ada hitungan hari, bahkan hanya beberapa menit.”
Dan aku teringat pada salah satu firman-Nya dalam QS Shad ayat 27:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”
Allah menciptakan segala sesuatu karena ada manfaatnya. Kita belum menyadarinya saja karena keterbatasan yang kita miliki. Begitu juga diriku yang baru saja mengetahuinya. Banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari kehidupan seekor laron yang sangat singkat.
Ia tetap mengepakkan sayap walaupun tahu ia akan jatuh
Ia tetap berjuang untuk terbang meskipun tahu sayap-sayapnya akan runtuh
Ia tetap pergi bertualang padahal ia tahu tak akan kembali ke rumah keesokan hari
Ia pejuang yang tak pernah takut pada mati, hanya takut pada Sang Illahi


Laron yang sudah tahu bahwa waktu hidupnya di dunia sangat singkat tetap berjuang. Mereka tetap terbang dan keluar bertualang, walaupun tahu di luar sana nyawanya akan dipenggal. Bagaimana dengan kita? Lama singkatnya hidup manusia hanyalah rahasia Allah semata. Namun apakah kita lebih baik dari mereka?
Melesat seketika dalam benakku bahwa aku tidak lebih baik dari mereka. Belum pernah aku berjuang seperti mereka sampai terkulai, sampai detik akhir nafas berhembus. Kita yang diberi waktu panjang untuk menikmati gemerlap dunia seharusnya bisa berjuang lebih daripada mereka. Manusia yang diciptakan dalam kondisi sebaik-baiknya, lengkap dengan akal dan pikiran, harusnya mampu berbuat lebih. Mampu berjuang lebih dari seekor laron yang tak memiliki kelebihan seperti kita. Laron dengan segala kekurangannya saja mengenal kata pantang menyerah, meresapi maknanya hingga ke serat sayap-sayapnya. Maka kita sebagai manusia harus lebih bisa memahaminya bahkan mempraktikkannya lebih dari si laron.
Apa gunanya kita diberi akal dan pikiran untuk menuntut ilmu apabila tak ada dimanfaatkan sebaik-baiknya. Apakah Allah menciptakan mulut kita hanya untuk membualkan semua tentang ilmu tanpa memberikan manfaat dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Maka sungguh sayang, ilmu itu akan sia-sia dan tak akan kembali pada kita. Bagaimana jadinya andai Rasulullah SAW hanya berdakwah tanpa memberi contoh kepada umatnya? Apa yang akan terjadi? Islam hanya akan berakhir sebagai salah satu teori saja, bukan agama.
Maka ketika kita menyuarakan kebaikan pada orang lain, akan lebih baiknya kita memberikan contoh atau mengerjakannya terlebih dahulu. Dan bila kita ingin mengubah sesuatu, maka harus dimulai dengan diri kita sendiri. Lakukan dengan sebaik-baiknya, dorong sampai benar-benar tak bisa lagi didorong seluruh kapasitas yang kita miliki. Masukkanlah kata pantang menyerah, usaha keras dalam setiap perbendaharaan kata dan hari kita. Pantang menyerah, berusaha keras dalam melakukan segala sesuatunya adalah perintah-Nya, seperti kutipan berikut:
 ....إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ .... 
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang pada diri mereka.” (QS Ar-Ra’ad:11)

Tuhan memang punya rencana, tapi sebagaian rencana-Nya adalah buah dari apa yang dikerjakan umat-Nya. Hari esok kita adalah bibit yang telah kita tanam dan pupuk selama ini, seperti apa ia akan tumbuh dan berbuah itu semua tergantung kita. Apabila kita selalu mengusahakan yang terbaik, maka Allah pun akan membalas niatan dan kerja keras tersebut. Sudahkah kita mengusahakan yang terbaik hari ini? Have a blessed Monday and do best for tomorrow!

Monday, November 3, 2014

Lentera yang Tak Pernah Padam ~Cahaya Pertama~

Saat manusia tak tahu lagi harus mengambil keputusan, tak tahu lagi jalan untuk melangkah, hanya ada kegelapan yang menyelimuti setiap jalan, tak ada lentera satu pun untuk mencerahkan, di titik inilah manusia seharusnya mengembalikan semua urusan pada Tuhannya. Hanya Dia-lah pemilik cahaya yang tak pernah padam, cahaya yang senantiasa menyinari hati manusia, cahaya yang selalu menjaga setiap sudut dan sisi perjalanan umatNya. Sekilas ingatan terunik yang belum pernah kualami sebelumnya tiba-tiba melintas kembali, kala sahabat-sahabat pena seperjuanganku sedang menghadapi dilema yang sama.
Sudah lebih dari 2 tahun saat semuanya dimulai, pertengahan 2012 aku menghilang mendadak dari peredaran kampus, sibuk sejenak untuk mengejar mimpi pertamaku. Tanpa pemberitahuan apa pun pada pembimbingku, aku absen tanpa sepengetahuan beliau selama 6 bulan lebih sampai awal 2013. Setelah aku puas dengan pelarian sejenakku dari tugas itu, aku kembali menemui beliau untuk mendiskusikan lebih lanjut tugas akhir yang menguji seluruh kapasitasku sebagai mahasiswa. Benakku berkecamuk, membayangkan berbagai reaksi dan jawaban dari beliau karena aku dengan seenaknya hilang tanpa kabar. Ketika niat sudah bulat, hati sudah mantap, dengan hasil revisi di tangan, hal yang tak terduga, beliau pergi ke Papua untuk sebulan terhitung dari bulan Januari.
Sesaat aku merasa, “Wuah! Ini nih akibatnya menunda-nunda, nggak manfaatin waktu dengan baik!” Aku hanya bisa menghela nafas, pulang dengan langkah gontai meninggalkan Gedung MSK UGM yang terletak di sebelah selatan Oase Dakwah Kampus, Masjid Kampus UGM itu. Sesuai yang dijanjikan, aku kembali lagi menemui beliau pada bulan berikutnya. Tanpa rasa bersalah dan hanya dengan wajah tersenyum polos, aku melakukan bimbingan intensif sampai pada akhirnya beliau memberikan ACC untuk seminar proposal. “Akhirnya setelah sekian lama!” girang hatiku berteriak keluar ruangan Pak Agus di lantai 2, di sebelah sisi kanan tangga utama.
Dalam perjalanan pulang itu aku merenung dan bertanya-tanya pada diriku sendiri, mengingat kembali dan merasakan perjuangan selama 8 bulan ini. Aku berusaha mencari-cari kesalahan diri kenapa sampai sesulit ini mendapatkan ijin resmi dari dosen pembimbing untuk maju seminar proposal. Kebiasaan yang tak baik untuk dicontoh sebenarnya, kerap aku merenung ketika sedang mengendarai motor menuju rumah. Dan aku melakukannya lagi, untuk kesekian kali (sudah tak terhitung). “Ah!” kata itu keluar saja dari mulutku ketika di lampu merah Jembatan Janti. Selama ini aku menjalani dengan setengah hati, selalu mencari-cari kesalahan orang lain hanya karena skripsi ini tak kunjung selesai dan mendapat kepastian. Tak hanya itu, ya, aku selalu mengeluh. Mengeluhkan segala sesuatu yang berjalan tak sesuai dengan apa yang kuinginkan, dan selalu mengabaikan tunas bunga syukur dari dasar kalbu.
Sejak saat itu, aku selalu berusaha mengerjakannya dengan ringan hati,  penuh niat untuk memberikan sekeping kebahagiaan bagi kedua orang tuaku. Tanpa erangan keluh kesah sedikit pun, tanpa kekesalan tertumpah di wajah dan dada ini, aku terus melanjutkannya dan berhasil melalui tahap pertama yang mendebarkan itu, ya, Seminar Proposal (bisa dibilang Pendadaran Mini). Entah ada bisikan apa yang merayuku, aku semakin memperbaiki kinerja dan diri, sehina apa pun diri ini, aku ingin semakin dekat denganNya.
Dan saat tiba pada hari Seminar Proposal, awal bulan Maret, 3 dosen (2 penguji dan  1 pembimbing), waktu 10 menit untuk presentasi, jantungku senam tak karuan. Tapi ya sudahlah, aku pasrah, sudah berusaha maksimal, sudah berdoa juga yang jelas agar diberi kemudahan dan kelancaran, tanpa hambatan suatu apa pun. Alhamdulillah, saat presentasi berjalan dengan lancar, bahkan begitu pula saat para penguji melemparkan pertanyaan. Tak ada ketegangan sedikit pun, justru penuh canda dan tawa dari ketiga dosen yang super sibuk itu. “Ya Allah, inikah kekuatan doa? Inikah cahaya yang Kau kirimkan pada lenteraku?” Bahkan sama sekali tak ada tekanan (walaupun banyak ditonton adik-adik angkatan), baik dari penonton maupun para dosen yang salah satunya terkenal killer (lebih tepatnya nggak mau disalahkan).
Banyak lelucon, sungguh (ya walaupun sedikit mengejek), “Anda ini kenapa sih suka yang besar-besar? Ini judul Anda terlalu luas,” ujar dosen killer itu. Lalu Pak Agus pun malah mem-follow-nya dengan mengatakan, “Apa itu maksudnya Pak?” sambil tertawa, menyipitkan mata melihatku yang melongo. Serempak mereka semua tertawa, tak luput kawan seperjuangan seminar di sampingku yang sedikit pucat pasi menanti gilirannya untuk dikritisi. Sempat juga di awal, Pak Agus berceletuk, “Saya aja bingung, Anda itu mahasiswa saya apa bukan.” (efek gara-gara ngilang selama setengah tahun)
Seminar Proposal yang berisi gelak tawa, baru pertama kali ini aku menyaksikannya. Lalu tiba giliran temanku (adik angkatan sebenarnya), wah kaget bukan kepalang aku jadinya. Dia dibantai habis-habisan sampai tak bisa berkata-kata dan memberikan jawaban yang memuaskan pada ketiga dosen itu. Aku juga turut terdiam, di sampingnya aku berusaha memberikan support, saat mata kami bertemu aku mengedipkan sambil menganggukkan kepalaku sebagai bentuk dukungan. Akhirnya setelah 15 menit mendebarkan itu pun berlalu, ia nampak lelah, dan aku hanya menepuk pundaknya, “Ayo semangat revisi!”
Seiring waktu berjalan, aku pun segera merevisi semua bagian proposal agar bisa segera mendapatkan ACC lapangan dari Pak Agus. Akhir bulan April itu menjadi penentuan yang mendebarkan, kala itu aku sangat bergantung sekali pada doa, doa, dan doa. Akhir bulan, sekitar tanggal 26 April aku membawa hasil revisi dan menyuguhkannya pada beliau, ya, dengan sedikit presentasi tentunya (maklum mahasiswa bimbingannya banyak). Akhirnya beliau membubuhkan tanda tangan, nama terang dan tulisan ACC besar di sampul depan proposalku. Beliau kemudian memberikan sedikit arahan teknis untuk mengurus perijinan ke lapangan, sembari tersenyum ramah (manis banget senyumnya Pak! Ouch!), “Untung kamu datang ke saya hari ini (hari Jum’at), mulai minggu depan saya mau keluar kota selama sebulan.”
“Eh, iya kah Pak?” balasku balik dengan spontan (ups).
“Saya mau ke Kalimantan 2 minggu, setelah itu ke Papua,” jawab beliau sambil duduk kembali ke kursi kebesarannya (sudah dilantik jadi Ketua MSK/Magister Studi Kebijakan).
Aku sempat mematung sesaat, “Ya Rabb, apa ini? Timing-nya terlalu pas!” Semakin aku mendekatiNya, semakin aku merasakan pendaran cahayaNya terus bertambah, memberikan kehidupan pada setiap lenteraku, agar aku tak terjatuh, tak terluka, tak tersesat saat menyusuri jalan. Kuperbanyak doa, dzikir dan sholat malam pun tak pernah hilang dari rutinitasku kala itu. Berbekal dengan niat baik untuk mengemban amanah dari orang tua (sebagai anak sekligus mahasiswa), aku pun akhirnya terjun ke lapangan untuk mencari informasi dan mengumpulkan data (terjun motor ke Imogiri dan Bantul).
Selama seminggu, masa untuk mengurus perijinan, semua berjalan sangat mulus, tak ada kendala sama sekali. Berbeda dengan yang kudengar dari cerita sobat-sobat perjuangan sebagai mahasiswa akhir yang mengeluhkan perihal perijinan. Bahkan saat aku berurusan dengan pihak-pihak di tingkat kecamatan dan desa, instansi-instansi dan perangkat-perangkatnya sangat kooperatif, tak mempersulitku barang sedikit pun. Sekali lagi aku meneteskan peluh mata kala bersujud siang itu di bumi Imogiri, “Ya Allah, betapa besar karuniaMu, sungguh tak terhingga rahmatMu. Terima kasih ya Allah, I’m nothing without You.” Pengurus di UPK (Unit Pengelola Kegiatan untuk PNPM Mandiri) Imogiri tak hanya kooperatif, tapi mereka juga memberikan infromasi terkait informan lain yang sama sekali tak kuminta (impact dari teknik snowball sampling). Perjalananku menelusuri pucuk-pucuk Imogiri pun berakhir dengan baik dan memuaskan.
Selama Pak Agus pergi, aku pun sekuat tenaga untuk mengolah data, menganalisisnya dan menatanya rapi ke dalam tulisan. Butuh perjuangannya yang tak pernah terkira, masa-masa itu (setelah Oprek FLP 2013), aku berusaha agar bisa mengejar wisuda pada bulan Agustus. Tidur 2 jam sehari sudah menjadi hal lazim bagiku selama sebulan (pertengahan Mei sampai Juni) itu. Atas ijinNya, selesai juga skripsi setebal 147 halaman itu (jumlah halaman awal sebelum sidang dan direvisi). Dua minggu terakhir bulan Juni, aku terus mengejar Pak Agus agar beliau bersedia meluangkan waktu untuk mengoreksi tumpukan kertas pengantar menuju gerbang kelulusan.
Begitu beliau mencoret-coretnya, segera kubawa pulang, kuperbaiki, lalu hari berikutnya aku datang lagi, dan begitu seterusnya, selama seminggu itu aku menghantui beliau. Akhirnya, hari Jum’at, 28 Juni 2013, beliau meng-acc berkas skripsiku, “Ya sudahlah, ini saya ACC. Segera ke jurusan ya, untuk daftar ujian.” Girang tak bisa lepas dari wajah penatku, (mata udah kayak mata panda) kuterima berkas itu dari tangan beliau sambil terus tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Aku permisi dan keluar dari ruangan Ketua MSK di lantai 1 paling ujung selatan itu, “Bapaknya udah muak sama aku nih, semingguan ini aku ngejar-ngejar terus. Tapi ya, alhamdulillah, akhirnya.”
Terekam jelas dalam memoriku, saat aku tak beranjak sedikit pun dari kamar hanya untuk menuntaskan segepok karya ilimiah, ibuku terus mengawasiku dari kejauhan, terkadang beliau hanya iseng menengokku. Melihat sosokku yang begitu serius di depan meja kerja (padahal hanya laptop di atas meja lipat), beliau hanya berujar, “Jangan terus-terusan di depan laptop, jangan sampai kecapekan.” Aku tahu itu adalah wujud sayang, wujud kasihnya padaku, sebisa mungkin beliau tak mengangguku, membiarkanku dengan segala kesibukannku, bahkan beliau tak mengusikku untuk membantu membereskan urusan rumah.
Suatu siang, seusai beliau selesai ibadah dhuhur, barang sebentar aku mengobrol dengan beliau. Lalu terpeleset keluar dari mulutku, "Makanya Bu, doain ya, biar cepet selesai, biar cepet lulus."Beliau pun tersenyum sambil berbalik dengan mukena masih menempel di tubuhnya, “Orang tua selalu mendoakan anaknya di setiap sholatnya.” Berdesir air mata mengalir dari palung hatiku, aku memaksa untuk tersenyum dan mengangguk, berusaha menahan air mata itu tak meluap keluar dari mataku.
~to be continued~

Friday, October 31, 2014

Globalisasi Nyata dalam Dunia Maya (Borderless) ~Jagalah Hati, Jagalah Mulut! Warning: Public Sphere!~

Seiring berkembang dan semakin majunya teknologi di Indonesia, pemanfaatan internet sebagai public sphere sekaligus penyebaran informasi melaju dengan pesat. Bahkan pengguna gadget seperti handphone dengan platform android, iOS, Windows, dan kawan-kawan pun juga meningkat. Sebagian besar masyarakat mengakses dunia maya dengan menggunakan handphone dan PC tablet yang lebih praktis daripada laptop dan komputer. Termasuk pengguna media sosial pun menjamur di negeri dengan penduduknya yang sangat padat, salah satunya adalah Facebook.
Jejaring sosial yang mulai populer di kalangan anak muda pada awal tahun 2008 di ini, telah menempatkan Indonesia pada posisi ke empat dunia sebagai pengguna akun Facebook terbanyak. Internet merupakan salah satu produk nyata dari globalisasi yang tak mengenal batas tempat dan wilayah (borderless) dan Facebook yang sangat tinggi sekali peminatnya pun telah meniadakan semua batas-batas itu. Pada mulanya, hanya sekedar batas wilayah dan tempat saja (sesuai dengan konsep globalisasi awal), namun semakin ke sini batas-batas kesopanan dan kesantunan pun hilang perlahan.


Berbagai berita dan informasi yang begitu cepat tersebar luas melalui media sosial satu ini pun semakin mendukung penduduk Facebook untuk dengan bebas mengungkapkan pendapat dan apa yang dipikirkannya (fungsi share status). Kebebasan yang selama ini terbiasa didapatkan dalam menggunakan jejaring sosial ini pun telah menciptakan suatu keajegan dalam diri seseorang dan menjadi suatu kebiasaan (melembaga dalam diri orang tersebut sehingga susah dihilangkan karena sudah tertanam dalam). Kebebasan dalam mengungkapkan apa yang dipikir, apa yang dirasa (tentunya difasilitasi oleh aplikasi ini) yang selama ini tak bisa diungkapkan di hapadan publik (di dunia nyata), bisa dengan bebas dilampiaskan oleh pengguna di halaman akun Facebook-nya (adanya fungsi Privacy dalam share status).
Pola pelampiasan dan pengungkapan gagasan yang demikian telah menyuntikkan virus-virus liberalisme yang mengampanyekan ‘kebebasan’ (freedom) atau ‘No Rules’ sehingga orang terbiasa bertindak seenaknya, semaunya tanpa mempertimbangkan etika dan estetika. Lebih parahnya lagi, virus-virus tersebut akan menggerogoti sisi agamis penggunanya melalui konsep ‘No Rules’ yang bertentangan dengan agama yang memiliki seperangkat aturan (memuat hak dan kewajiban manusia terhadap Tuhan dan sesama manusia). Belum lama ini, ada beberapa kasus yang merupakan imbas dari borderless Facebook dan berujung pada pem-bully-an di dunia maya (berakhir tragis dengan tindak lanjut berupa sanksi hukum dan sosial di dunia nyata).
Tentunya masih segar dalam ingatan kita tentang bully yang terjadi pada masa kampanye Pemilu untuk memilih Presiden 2014 yang lalu. Para pendukung kedua kubu masing-masing melancarkan berbagai serangan untuk menjatuhkan Calon Presiden satu sama lain. Berita-berita yang diluncurkan terbaca cukup sinis bahkan sudah masuk dalam taraf sarkasme yang lebih ke arah fitnah dan ghibah. Kebebasan menggunakan public tools seperti Facebook yang tak mengenal batas-batas (etika, estetika, dan moral) ini pun semakin menjadi hanya demi mendapatkan pengakuan, mengajak orang lain untuk sepemahaman dengan oknum yang melakukan.
Seolah orang-orang telah lupa bahwa apa yang ditulisnya itu tak ubahnya sama dengan apa yang diucapkan karena berisi ungkapan pendapat dan perspektif yang beranekaragam sesuai dengan apa yang ada di benak dan pikirnya. Secara fungsional, status yang ditulis dan ditebar di jejaring sosial sudah sama dengan perkataan yang biasanya dipaparkan secara oral. Mungkin selama ini, kita tak pernah mengindahkan hal-hal sepele yang demikian, “Ah ini kan akunku, jadi suka-suka aku dong, terserah mau ngapain!” Kurang lebih begitu yang kerap ada di benak kita semua. Namun perlu diingat bahwa jejaring sosial macam Facebook itu merupakan public sphere yang fungsinya sama dengan public place seperti di dunia nyata. Apa yang kita pajang, apa yang kita sebar, bisa dilihat oleh semua orang, tak peduli dari mana ia berasal, di mana ia tinggal.
Konsep borderless yang diusung Facebook kini telah menembus batas-batas norma dan etika yang selama ini membangun peradaban manusia dengan sederet aturan dan budayanya. Ada baiknya mulai saat ini, kita lebih berhati-hati lagi dalam mem-filter informasi dan mengutarakan gagasan kita di akun maya ini. Jangan sampai ia membentuk kita menjadi manusia yang tak lagi mengenal aturan, tak lagi menghargai dan menghormati orang lain, terlebih lagi menjadi insan yang suka mencerca, menyakiti hati sesama. Jagalah hati, jagalah mulut! Have a barokah Friday ever! May Allah always protect and love us!

Wednesday, October 29, 2014

Kebetulan yang Terajut Benang Ukhuwah

Dalam kamus memang terdapat beberapa kata yang pada kenyataannya kata itu hanyalah sebatas kata. Kata-kata tersebut hanya berujung pada perbendaharaan bahasa saja, seperti kata ‘kebetulan’. Kebetulan hanyalah sebongkah kata. Dalam kehidupan nyata hal yang disepakati manusia untuk menyebut sebuah kejadian yang tidak disengaja (kebetulan) pada dasarnya tidak pernah ada. Semua sudah ada yang mengatur, mulai dari kisah hidup setiap insan sampai pertemuan-pertemuan dengan berbagai orang dan bumbu intrik yang melekat bersama peristiwa-peristiwa tersebut. Usaha, upaya yang kita lakukan adalah hiasan terakhir untuk memperindahnya.
Akhir-akhir ini, aku betul merasakan kekuatan ukhuwah (jalinan terbentuk karena pertemuan-pertemuan penting yang telah diaturNya) dan doa-doa yang mengiringinya. Keputusan yang kupilih saat ini sama sekali tak pernah terbayang oleh diriku setahun lalu. Banyak hal yang harus kuupayakan, banyak hal yang selama ini belum pernah kulakukan dan moment ini memaksaku untuk melakukannya. Di saat waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya dirasa kurang (tidak bisa memanajemen waktu dengan baik), akhirnya aku hanya pasrah dan memperkuat doaku, memanfaatkan sisa waktu yang tak sampai seminggu untuk mengoptimalkannya.
Di saat yang sama, aku meminta ridho dan doa tak hanya dari kedua orang tua, tapi dari orang-orang luar biasa yang tak perlu kata dalam menyayangi dan mengasihiku. Allah mempertemukanku dengan mereka melalui cara dan jalan yang sama sekali tak terduga, melalui jalan yang kala itu aku sangat membencinya. Benar adanya, segala sesuatu yang kita benci itu belum tentu tidak baik bagi kita karena hanya Allah yang tahu dan mengerti apa yang terbaik untuk kita.
Sahabat-sahabat terkasihku yang telah menghuni tetap di sela-sela hatiku, aku sangat bersyukur Allah telah mempertemukan dan merajut ukhuwah kita menjadi semakin apik, indah, hangat. Terima kasih selama ini kalian selalu ada untukku, tak perlu kalian berucap, rasa cinta, kasih, dan sayang itu telah sampai di hatiku. Terima kasih selalu menyebut namaku dalam doa-doa kalian. Tanpa kalian, tanpa doa kalian, aku tak bisa melangkah sejauh ini. Berharap ukhuwah ini akan selalu abadi sampai di akhirat nanti. I love you all because of Allah. Semoga Allah juga melimpahkan berlipat-lipat kebaikan dan keberkahan pada kalian. Have a blessed, nice, and barokah day ever! Mohon doanya lagi ya, ^_^

Cinta Kasih Tanpa Kata

Temaram cahyanya syahdu menerpa mata dan hatiku
Mengelus manis, hangat di setiap ujung jari yang bersandar di punggungku
Notifikasi tak melambai, meluruhkan bulir air di sudut mataku

Teringat akan sosokmu mengais asa
Sempit sesak hati ini mengungkap memori lara
Gigil mendera tubuh ini, angin musim dingin mencengkeram erat
Salju yang menari membekukan ujung-ujung hati yang tercekat



Bunga pun mekar, musim pun berjalan mengarungi waktu
Semua yang tertangkap lensa terasa begitu memukau
Kehadiranmu yang sesaat berbekas duka
Namun sisa-sisa harum seminya sangat berharga

Cukup kutatap lembaran langit dengan bintang dan bulannya
Kutahu kau selalu tersenyum, berlari ke ujung cakrawala
Tak perlu kau bentuk rasa itu ke dalam kata
Aku tahu apa yang kau jaga dalam dada

Sumber gambar

Wednesday, October 22, 2014

Waktu Yang Tak Ingin Berubah



Waktu tak pernah berhenti, ia selalu berjalan tanpa lelah membersamai kehidupan. Waktu yang telah berlalu menjadi kenangan dalam ingatan manusia dan kenangan yang tertinggal di suatu masa dan tempat bersikeras untuk tetap dijaga, selalu sama, tanpa ada sedikit pun kata berbeda. Dilema kehidupan sosial pun terus berjalan, berbagai polemik di dalamnya pun mengantarkannya pada masa baru yang sangat dinamis. Berubah, berkembang, membaik, dan mungkin memburuk, hal ini terus terjadi berulang kali. Selama manusia berkembang, maka semuanya pun mengikutinya. Tak ada yang sama, tak ada yang benar-benar sama, kalau pun masih ada beberapa masa dan tempat yang ingin tetap dijaga seperti dalam ingatan.
Entah, di suatu tempat yang dalam, ada yang membisikkan, “Tetaplah sama, jangan pernah berubah, seperti saat aku dulu pertama mengenalmu, melihatmu.” Terlebih ketika orang-orang yang menempati ingatan terpenting kita sudah tak ada lagi di dunia ini. Tempat-tempat dan masa-masa yang pernah dilalui bersama, menjadi sesuatu yang tak tergantikan. Saat semuanya berbeda, hanya bisa bertutur pada hati, “Kenapa semuanya begitu cepat berubah? Kamu, ya kamu, tempat yang menjadi saksi kisahku dengannya. Dan semua yang di sekitarmu.”
Meskipun hati ini sudah merelakan kepergiannya, namun tempat yang menjadi kenangan indah itu ingin tetap sama, apa adanya. Terlebih lagi semuanya itu disesaki dengan penyesalan karena janji yang diucap satu sama lain tak pernah terpenuhi. Janji yang terucap beberapa tahun lalu sebelum aku pergi untuk 2 bulan, menjalankan tugas sebagai mahasiswa tahun ketiga, KKN PPM UGM. Janji yang dari awal kuanggap tak seserius dan sedalam kekecewaan, penyesalan yang kutuai di kemudian hari.
Waktu yang tak terlihat oleh mata, tak terdengar oleh hati, siapa sangka hari esok adalah hari yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Hari ketika aku tak bisa mendengar tawa dan amarahnya, hari di mana aku tak bisa melihat senyumnya untuk selamanya. Semuanya tersisa, menempel erat dalam benak dan ingatan. Saat kutatap wajahnya yang menua, tubuhnya yang mulai kaku, aku kehilangan kendali. Entah dari mana datangnya, aku menjerit, menangis seperti anak kecil yang direbut mainannya. Sedari awal, aku tak pernah menyangka akan secepat ini beliau pergi. Aku pikir aku masih memiliki waktu cukup untuk memenuhi janjiku padanya.
Berbagai kesibukan yang menderaku kala itu, membuatku terus menunda janjiku. Padahal permintaannya sangat sederhana, “Lin, besok nginep di sini ya. Tidur bareng simbah, kamu tidur di sini, nanti simbah di sini, di sampingmu.”
Aku pun menjawabnya dengan sedikit candaan, “Apa cukup tempat tidurnya?” Dan kami pun tertawa bersama, sudah lama sekali rasanya aku tak melihat beliau tersenyum lepas seperti itu. Aku mengiyakan saja perminataan beliau, “Besok ya, kalau udah balik KKN.” Sebagai gantinya, aku pun meminta beliau untuk berjanji satu hal padaku, “Mbok, pokoknya kalau aku udah balik KKN, udah harus sembuh ya.” Beliau membalasnya dengan senyum lembut dan mengangguk.
Tapi ternyata, sekali lagi, setelah itu aku menjadi semakin sibuk dengan berbagai kegiatan bahkan sampai harus pergi bolak-balik Yogyakarta-Klaten. Aku hanya sesekali menengok beliau, kadang di rumah, kadang di rumah sakit, ya karena beliau membutuhkan perawatan lebih. Hari itu, 27 September 2011, entah, aku ingin sekali pergi ke rumah sakit, menemani beliau seharian. Namun beberapa laporan penelitian menanti manis di depan laptop, dan ibu pun tidak memberiku ijin untuk ke rumah sakit dengan alasan karena adikku belum pulang, aku pun diminta untuk menunggu di rumah.
Menjelang maghrib, semuanya pun menjadi jelas. Nenekku yang biasa kupanggil Simbok itu pun pergi memenuhi panggilan Sang Kuasa, memulai perjalanan spiritualnya. Andai bisa aku menghentikan waktu, andai waktu itu tetap seperti itu, tak ada yang berubahm penyesalan yang ada pun tak akan sebesar ini, tak sesesak ini. Wahai saudara-saudariku, jika kedua orang tua kalian, baik kakek dan nenek kalian masih ada, luangkanlah waktu untuk mereka. Sesibuk apa pun, sepadat apa pun kegiatan dan amanah kalian, temanilah, berbaktilah pada mereka saat mereka masih ada. Kalian tak akan mendapatkan waktu yang sama seperti saat kalian dulu bersama mereka. Sebelum penyesalan itu memaksa masuk memporak-porandakan hati dan hidup kalian. Have a nice and barokah Wednesday!

Tuesday, October 21, 2014

Gemericik Renungan



Satu per satu, mereka yang di sekelilingku melangkah jauh ke berbagai penjuru menyongsong mimpi dan angan masing-masing. Aku masih saja di sini, menoleh kiri, kanan, depan, belakang. Jalan-jalan yang bercabang mengelilingiku dengan bujuk dan rayunya, begitu menyiksa batinku. Terlalu banyak bisik lirih yang menggemingkan hatiku, membuatku enggan untuk melangkah dengan kaki yang terbungkus sepatu ketakutan. Aku tak sanggup berdiri dengan kakiku sendiri, selalu bersandar pada tanaman di kiri kananku. Ingin ku dekati tembok-tembok yang menjulang di setiap percabangan, melompatinya atau jikalau mungkin menghancurkannya dengan tangan ini.
Beranekaragam faktor yang terus mendesakku, berbagai ekspektasi menghampiriku, membuatku semakin kekeuh untuk menjaga idealismeku, mengejar mimpiku yang sesungguhnya. Bukan karena tuntutan orang tua, bukan karena saran sobat atau pun yang lainnya. Tapi, di penghujung jalan, apa yang akan ku temui nanti? Apa yang akan bisa ku lakukan setelah semuanya itu tercapai? Itu pertanyaan yang membuatku terkungkung dalam belenggu kekhawatiran, jawabannya tak ada di mana pun, aku belum menemukannya. Tak berani sedikit pun aku menjawab lebih dari itu, lebih dari, “Itu yang kuinginkan. Itu mimpiku.” Perkara nanti setelahnya masih menjadi misteri bagiku, tapi aku sama sekali tak mempermasalahkannya.
Berbeda dengan kedua orang tua yang lebih mengedepankan realita, aku tak berani menyuguhkan jawaban gila yang ada di kepalaku. Dalam hati aku selalu menjaganya, “Allah telah mempersiapkan yang terbaik untukku. Apa pun itu, segala yang kujalani, kulalui dalam setiap detik hidup ini adalah yang terbaik untukku.” Aku masih belum menemukan moment yang tepat untuk meyakinkan orang tuaku akan hal itu, seperti kala dulu aku meyakinkan dan membujuk mereka untuk memberiku ridho mengejar mimpiku. Karena bagaimana pun juga, ridho Allah adalah ridho orang tua.
Sudah kah meminta ridho orang tua dalam setiap kegiatan kita? Jangan sampai mimpi-mimpimu tertunda karena keikhalasan bapak ibu dalam mendukung dan mendoakan kita. Have a nice and barokah Tuesday!

Monday, October 13, 2014

Sebilah Kisah dari Perantauan ~Part 2~ (Saat Waktu Menuntut Ikhlas)


Bulir pasir yang berjatuhan tiada henti terus tertumpuk di dasar tabung, seperti masa-masa yang telah dilalui terus mengendap dalam ingatan. Terkadang kerikil-kerikil kasar dan bongkahan batu pun memaksa untuk turut serta. Ada suatu masa di mana setiap insan merangkai setiap untaian kata untuk menulis kisahnya, namun ketika kisah itu mulai ditulis tak sekali dua kali ia harus mengganti alurnya. Tak terelakkan beberapa tokoh dan ide ceritanya pun berganti, bergeser, jauh dari harapan dan rencananya semula. Ya, itulah hidup.
Alhasil, deraan keluh kesah pun tak berhenti dicoretkan dalam beberapa bagian, mungkin beberapa dialog. Pada beberapa bagian itu, hidup dan waktu sebenarnya tidak menuntut banyak, hanya satu kata, keikhlasan. Ikhlas untuk menerima, ikhlas untuk merelakan, ikhlas untuk berjuang kembali, dan masih banyak ikhlas yang lainnya. Aku masih belajar, ya belajar untuk ikhlas dari banyak pertemuan dengan insan-insan luar biasa yang banyak menyebutnya sahabat. Jalinan di antara kami sudah terjalin lebih dari satu dekade, lebih tepatnya 12 tahun (sedari SMP, tahun 2002). Saking dekatnya, kami sampai memiliki julukan atau panggilan sayang yang ditujukan satu sama lain, sebut saja mereka Oneng, Si Mbok, dan Esteh.
Oneng dan Si Mbok sudah mendahuluiku dan Esteh dalam membangun bidak rumah tangga, sudah sekitar 2 sampai 3 tahun mungkin. Akan tetapi, Allah belum memberikan mereka amanah baru sebagai seorang ibu sekaligus pendidik dunia akhirat. Kisah perjalanan mereka semua benar-benar penuh kejutan dan intrik yang bagi sebagian orang mungkin sulit untuk tidak berceramah panjang lebar mengeluhkan semua yang dialaminya.
Oneng sudah 3 tahun ini menjalani kehidupannya sebagai seorang istri muda sekaligus status mahasiswi yang masih menempel erat (sedang berusaha untuk melepasnya), begitu juga dengan suaminya. Di usia yang masih belia, awal kepala dua, mereka sudah berkomitmen dan membulatkan niat untuk menikah karena Allah. Niatan yang baik ini pun mengalirkan hal-hal baik lainnya. Oneng dan suami pada awalnya meminjam uang kedua orang tua mereka untuk memulai usaha membuka laundry dan menyewa sebuah rumah di perumahan dekat dengan kampung halaman Oneng. Alhamdulillah dalam kurun waktu 1 tahun, Oneng bisa mengembalikan uang yang dipinjamnya.
Bisnis tempat cuci baju kiloannya ini hanya bertahan sebentar, tahun kedua berjalan entah karena suatu alasan, Oneng harus menutup usahanya yang sudah berhasil membuka satu cabang lain di daerah Banguntapan, Bantul. Kemudian Oneng pun lebih memilih fokus untuk menjadi guru les privat sesuai dengan background studinya, Pendidikan Kimia. Sedangkan suaminya akhirnya bisa kesampaian untuk menekuni passion-nya di bidang otomotif dan bisnis. Ia membuka bisnis berjualan knalpot dan aksesoris motor dengan modal yang selama ini dikumpulkan. Tak berselang lama, Oneng dan suami pun pindah ke sebuah perumahan baru dan membeli rumah dengan kredit dalam jangka waktu 3 tahun. Bahkan rizki yang terus mengalir ini bisa membuat mereka untuk mengkredit mobil.
Kebahagiaan dan rizki yang terus mengalir ini pun memuncak dengan dikaruniainya Oneng sebuah janin pada Februari lalu. Akhirnya ikhtiar pasangan ini semenjak Oktober tahun  silam pun berbuah manis, Allah pun mengabulkan doa mereka. Namun keduanya pun tak menyangka kalau amanah ini begitu berat. Bulan pertama kesabaran Oneng pun diuji, entah karena suatu hal flek-flek mulai muncul menandakan bahwa ia harus istirahat total demi calon bayinya. Akhirnya bulan pun berganti, baru genap dua bulan usia kandungannya, Oneng terkesiap melihat flek yang keluar lebih banyak dari biasanya, dan siapa yang menyana bahwa ternyata peristiwa ini berujung pada pendarahan.
Masa-masa awal kehamilannya, Oneng selalu gelisah, ketakutan akan kehilangan calon anaknya yang selama ini selalu didambakan. Tapi semakin mendekati titik balik takdir, perlahan ia pun mulai melepas dan mempersiapkan hatinya untuk merelakan anaknya. Kombinasi antara pasrah, ikhlas, tawakal, dan husnudzon pada Sang Pencipta pun semakin kuat merangkul setiap detik yang berlalu. Sebelum ruh sempat dihembuskan dalam rahimnya, Allah terlebih dahulu menyabdakan titahNya. Dan ketika calon harapannya itu diambil, Oneng justru tersenyum lepas, menyambutku dengan hangat di pintu kamarnya.
Baru kali ini aku melihat ada sosok ibu yang bisa tersenyum ikhlas merelakan bagian dari tubuhnya pergi untuk selamanya. Aku pun hanya bisa membalas senyumnya itu dengan penuh tanya bercampur lega. Ketika aku bertanya menanyakan keadaan dan kronologinya, ia menjawab sambil merekahkan senyum, “Ya mau gimana lagi Lin, udah kehendak Yang Di Atas. Ya udah aku ikhlasin aja, mungkin ini yang terbaik buat kami. Nanti ketika sudah waktunya, juga pasti insya Allah akan diberi amanah lagi.”
Aku pun langsung menyambung, “Ngomong-ngomong soal amanah, gimana tuh kuliahmu? Itu kan juga amanah dari orang tua, lebih dulu pula.”
Gelak tawa darinya pun semakin menjadi, entah itu sebagai excuse atau malah menertawakan dirinya sendiri, “Iya nih Lin, doanya ya. Ini kemarin nggak bisa ngapa-ngapain karena harus bedrest. Insya Allah setelah ini deh, adikku juga bentar lagi malah mau wisuda.”
“Nah loh, malah duluan adiknya, gimana sih?” tanyaku balik sambil nyengir mengejek.
“Iya, iya. Tapi hidup itu pilihan Lin, dan pilihanku adalah menikah, berkeluarga, dan mengajar. Kemarin-kemarin yang satu itu belum masuk prioritas sih.”
Aku tertawa sambil terus melirik ke arahnya, syukurlah kalau Oneng baik-baik saja. Baguslah kalau dia berniat memasukkan kembali skripsi ke dalam prioritasnya. “Semangat ya Neng! Bismillah aja,” balasku menyemangatinya sambil menepuk lengan kanannya. Teringat kemarin ini ketika kami berempat mengadakan reuni dadakan dan kecil-kecilan di rumah Si Mbok, Oneng pun sempat menambahkan quote-nya:
Semuanya itu pilihan kok, sekarang tergantung kamu mau milih yang mana. Tapi semuanya itu harus dijalani termasuk semua konsekuensinya.”

Tak ketinggalan aku pun menimpali, “Apa pun pilihan kita, kita harus bertanggung jawab untuk menjalaninya dan menyelesaikannya sampai akhir, tak terkecuali konsekuensi-konsekuensinya.”

Sebilah Kisah dari Perantauan ~Part 1~


Hidup itu terkadang tidak berjalan sesuai dengan yang manusia inginkan. Setiap kali hal itu terjadi, kerap manusia bertanya-tanya dengan berbagai keluh kesahnya. Terkadang sampai menyalahkan berbagai pihak dan mengada-adakan faktor-faktor yang sangat kecil pengaruhnya. Manusia dewasa ini seolah melupakan sejenak kondisi batiniahnya demi mengejar segala hal yang ada di dunia, walaupun itu hanya sekedar untuk mendapat kepuasaan yang didasarkan atas standar-standar buatan manusia. Kondisi rohani yang selalu dinomorduakan, bahkan mungkin nomor dua dari belakang, bisa dibilang sebagai faktor yang melahirkan sistem kompetisi di dunia. Ya, ibaratnya jika kau tidak menjadi nomor satu, maka kau tak akan pernah menjadi jagoan, menjadi pemenang, tentunya di mata manusia.
Manusia seolah lupa, bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali kematian. Keharusan menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat sudah tak pernah lagi masuk dalam prioritas kehidupan manusia modern ini. Mereka selalu mengutamakan apa yang bisa mereka lihat dengan mata, yaitu dunia. Tak pernah sekali pun berusaha untuk melihat dengan mata hati apa yang selama ini tak terlihat oleh mata fisik, yaitu akhirat. Tidak berlebihan dalam melakukan segala hal adalah salah satu ajaran inti dalam Islam, seperti firman Allah dalam Al Qasas ayat 77 sebagai berikut:
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”
Keharusan untuk menjalani kehidupan sesuai ajaran ini memang tidaklah mudah, tapi bagaimana pun juga segala yang di tengah-tengah (seimbang, tidak berlebihan) itu lebih baik. Sejenak aku teringat beberapa waktu lalu, ada seorang sahabat di perantauan yang tiba-tiba bertanya dan sedikit bercerita padaku melalui media chat di hp.
“Lin, kamu setuju nggak orang yang nggak tahan tekanan nggak bakal bisa sukses?”
“Nggak, tapi itu memang tantangan yang harus dilalui. Tantangan nggak sama dengan tekanan. Kalau bisa menikmati tantangan maka nggak akan jadi tekanan. Simpel kan? Parameter sukses tiap orang kan juga beda, nggak bisa disamakan,” balasku kemudian.
Sedikit lama ia menjawab, “Gitu ya? Gimana kalau ada orang yang tetap rela ditekan setiap hari, meskipun hal tersebut mengubah perangainya jadi buruk? Dia rela digituin demi masa depan yang baik.”
Aku pun terus membalas sambil berpikir agar apa yang ingin kusampaikan bisa dicernanya dengan baik, lalu kubalas panjang lebar, “Kalau demi masa depan yang baik, harus jadi pribadi yang baik, mengusahakan yang baik, dengan itu Allah yang menjamin kalau bakal punya masa depan yang lebih baik.” Aku pun berhenti sejenak, merangkai kata-kata di dalam benak, “Nggak ada yang namanya demi masa depan lebih baik tapi sampai rela berubah menjadi buruk. Siapa yang bisa menjamin masa depan manusia?” tanyaku balik, dan ia pun masih dengan sabar menunggu sampai ceramahku yang biasanya selesai. “Cuma Allah dan apa yang sedang diupayakan sekarang, tentunya dengan cara yang baik. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau berusaha. Berusaha di sini juga tentu dalam kategori yang baik. Sekarang tinggal pilih, kamu lebih suka dipandang dan dianggap oleh Allah atau hanya segelintir manusia? Insya Allah aku tahu kalau kamu lebih milih yang pertama, kamu dapat suskes dunia akhirat.”
Actually, belakangan ini entah kenapa susah menata pikiran. Somehow kerjaan jadi overload,” jawabnya singkat dan mulai mengerti apa yang kumaksud. “Hmm, hidup seimbang susah juga ya. Benar-benar berjuang keras buat dunia dan akhirat,” lanjutnya beberapa saat kemudian. Sahabatku yang satu ini sedang berjuang menghadapi hiruk pikuk pergaulan di Kota Metropolitan nomor satu di Indonesia, Jakarta, bahkan ia menyebutnya sebagai Kota Cyberpunk yang sama sekali aku masih belum paham makna seutuhnya.



Ia bahkan kerap bercerita padaku tentang lingkungan kerjanya yang sangat kondusif untuk mengubah perangainya menjadi lebih buruk. Hedonisme merongrong kuat dalam atmosfernya bahkan segala sesuatu selalu di pandang dengan standardisasi manusia yang tak akan pernah bisa memenuhi kepuasaan batiniah. Orang-orang yang selalu mengejar sesuatu karena hanya sekedar untuk memenuhi standar-standar tersebut hanya akan selalu merasa haus dan semakin haus sehingga ketamakan dan kerakusan pun mudah merasuk sampai ke sumsum tulang mereka. Kepuasaan batiniah seharusnya dicari dengan cara batiniah, bukan didasarkan atas standardisasi duniawi. Ibaratnya jika kita menanam padi, maka rerumputan pun akan ikut tumbuh di sekitarnya, namun jika kita menanam rerumputan, padi tidak akan ikut tumbuh. Begitu juga dengan dunia akhirat, jika kita mengejar akhirat maka dunia pun akan mengikuti. (Quote from my friend)